Anak Bertanya pada Ayahnya : Logika

Posted: April 17, 2011 in Curhat
Tag:, , , ,

Yah, logika itu apa?🙂

Di suatu soal, Aik ngerjakan dapat jawaban, benar memang. tapi, saat aq tanya gimana caranya, ayo dicoret-coret? Aik tak bisa cari jawabannya, malah menuliskan angka-angka yang tidak ber’logika’. Nah, aq tegur, ” Aik, makanya kalau menjawab itu harus pakai logika !”. Dan pertanyaan diatas muncul.

Itu pertanyaan sulit, yang aq atau orangtua harus jelaskan pada anak usia 9 tahun kelas 4 SD. Apa jawabanq logika itu “cara berfikir yang benar !”. Apakah jawabanq sebagai ayah membantunya, aq malah berfikir, tidak. Kenapa? dalam dunia anakq, selama ini mungkin dia merasa cara berfikirnya sudah benar. Lah kok ayah bilang cara berfikir yang benar???

Latar-belakangnya, Aik diminta untuk latihan soal-soal kelas 6 SD karena akan ada olimpiade tingkat SD lagi dan sebagai persiapan dari sekolah mungkin diminta latihan lebih baik lagi. Saat Aik pulang membawa soal kelas 6-pun, logikaq mengatakan ‘tidak ‘ logis. Tapi kalau Aik bertanya kenapa Aik diberi soal kelas 6, Aq pasti bisa berlogika karena memang tahun kemarin, dia gagal total. Lolos tingkat kota saja tidak, hehe… bekalnya hanya ranking 1 di kelas, bekal lainnya ‘oleh-oleh’ dari tanah jawa karena habis diajak ayah pulang mudik lebaran, hehehe…🙂

Nah, ini tabiat orangtua yang ‘kurang baik’. Cekatan membentak kalau anak tidak fokus. Termasuk aq, ketika anak diajari dengan baik, malah diselingi main-main, waah…cepat naik emosinya. Aq merasa Aik tidak memperhatikan, tidak fokus, gak akan jadi pintar, jadi pemalas sekali… bla..bla..bla. Padahal dunia-nya berbeda dengan duniaku. Nah, ibunya yang sering menegur, “ngajari gak usah pake bentak-bentak, ngapa !”.

Aik bukan mahasiswa, jadi tidak mungkin aq menjelaskan logika-nya aristoteles atau analitika, menjawab dengan pengertian logika matematika atau kalkulus proporsional, atau gerbang logika dalam elektronika atau filsafat logika.

Itulah, orangtua sering merasa pintar ! tapi sebenarnya amat bodoh untuk bisa menjelaskan pertanyaan yang paling mudah dilontarkan anak, saat tidak mengerti. Mari kita belajar lagi untuk menjadi ‘orang’ pintar. Walau badan sudah mulai terasa ngilu-ngilu habis kerja berat, mata sering berair keseringan membaca, pinggang cenut-cenut karena sering angkat-angkat batu, rambut gatal-gatal karena ubanan, hehehe…

Long life education !!!. Nah bagi yang sudah merasa menjadi orangtua, bagaimana cara menjawab pertanyaan anak diatas?

Yang jelas, Aq suka logikanya Jose Mourinho, pelatih Real Madrid, di Kompas Bola. Ketika Mou melakukan aksi bungkam sebelum el clasico- dan mewakilkan konferensi pers-nya kepada Aitor, wartawan tidak mau bicara dan walk out. Dan setelah pertandingan selesai dengan hasil imbang 1-1, ketika wartawan AS, bertanya pada Mou, Mou malah bertanya :

“Apakah Anda direktur AS? Jika tidak, saya tidak bisa menjawabnya. Karena menurut filosofi Anda, Anda tak akan berbicara dengan wakil saya. Jadi saya hanya akan bicara dengan direktur Anda (bukan wakil atau wartawannya),” ujar Mourinho ketus kepada wartawan AS seperti dilansir Reuters.

Maka Mou berlogika, jika wartawan tak mau berbicara dengan wakilnya, dia pun membalas tak mau berbicara dengan wakil perusahaan media, dalam hal ini AS. Ketika wartawan AS tersebut menanyakan hal yang lain, pria berusia 48 tahun ini kembali memberikan jawaban yang tak mengenakkan. “Saya tak bisa menjawab Anda. Anda tak menghormati orang yang memenangkan tiga gelar Eropa dengan klub ini (Aitor Aranka), orang yang punya kredibilitas untuk menjadi perwakilan saya di konferensi pers,” tegasnya.

Tapi logika tidak seperti anekdot ini khan ?

Ada dua orang bekas pejabat tinggi Indonesia: BJ Habibie dan Harmoko. Di kalangan intelektual secara terbatas beredar anekdot: kalau BJ Habibie berbicara panjang lebar sambil mem-plotot-kan matanya berarti mulutnya tidak mampu mengimbangi kecepatan logika berpikirnya. Ibarat computer CPU-nya terlalu canggih daripada printer-nya. Sebaliknya dengan Harmoko, banyak berbicara karena tidak berpikir. Logikanya tergelincir minyak rambutnya yang klimis. Bahkan secara sarkastis ada yang mem-pleset-kan namanya sebagai akronim Hari-hari omong kosong.

Orang bijak mengatakan pikir itu pelita hati. Dengan kata lain, berpikirlah dulu sebelum berbicara. Mulutmu harimaumu yang akan menerkam kepalamu. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Di sinilah letak pentingnya logika sebagai pengetahuan dan seni berpikir yang lurus. Artinya, berpikir yang sesuai dengan hukum-hukum logika. Nah, yang ini Aik juga belum akan memahami, jadi lebih baik aq akhiri tulisan ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s