Offline demi Membumi dengan Alam

Posted: Maret 15, 2011 in Pengalaman Unik
Tag:, , ,

Offline dan Lamunan Sebatang Pohon….

Hidup bagaikan sebatang pohon
Lebat bunganya serta buahnya
Walaupun hidup seribu tahun
Kalau tak sembahyang apa, gunanya…

Kami bekerja sehari-hari
Dengan mengharap rezki Illahi
Walaupun hidup seribu tahun
Kalau tak sembahyang, apa gunanya…

Kami lakukan sembahyang fardhu
Tak lupa juga sembahyang sunnah
Supaya Allah menjadi sayang
Kami bekerja hatilah riang.

Saat mau nulis jadi inget, syair ‘Sebatang Pohon’ yang dinyanyikan anak-anak santri TPA Al Mujahidin, saat tampil di Maulid Nabi lalu dan kemudian sering diulang-ulang di rumah sama Ata, juniorq no.2,🙂 . Kangen juga untuk menulis lagi, setelah vakum – ‘sama sekali’ tidak mengelola blog sejak akhir Desember. Terhitung 2 bulan lebih, aq sama sekali tidak menjamahnya, kecuali 2 kali ketika harus memberikan soal2 ujian. Karena tidak di-update, traffic-nya juga turun drastis !!!. Kalo dulu-dulu di blog Indonesia masih bisa rank 800, eh ladalah sekarang merosot jadi 2030. Di blogtopsites dan blogtoplist yang dulunya berkisar 100, turun juga jadi 150-an. Sementara PR tidak beranjak dari 3,5jutaan, ampunnn deh. Nah Lo, aktivitasnya apa kalo gitu ?? Hehe… istilah ngawurnya, ‘bending down’ (membungkuk-bungkuk) atau lebih dalam ‘earthing’ (membumi). Senada dengan ruku-sujudnya aq yang harusnya selalu ingat Illahi, walau seringkali imannya juga membentuk kurva non linear. Payah, hehe…. :

Kala Kupang Diguyur Hujan….
Kalo biasanya duduk manis di kursi menghadap layar, berkomunikasi inter-karakter dalam dunia ‘maya’, bermain-main dengan persepsi ‘otak’, maka hampir 3 bulan lewat aq me‘refresh’ semuanya dengan lebih banyak menghadap alam. Membumikan diri dalam rangka harmonisasi dengan elemen alam, yaitu tanah, air dan udara. Sok keren bahasanya, padahal sebenarnya hanyalah mencangkul, mengorek2 tanah dan bermain ciprat2an air untuk menanam ketela, pepaya, lombok dan membudidayakan pisang, mengatur bunga2, mencabuti rumput-rumput liar. Apa jadinya? Sela2 kuku menghitam terselip tanah, telapak tangan menebal, ‘Ngapal’ orang jawa bilang, kulit kepala hingga kaki kecoklatan terpapar sengatan matahari. Itu baru bagian kebun-kebunan. Kalau hewani-nya, belajar ‘mengingat’ pelihara ayam, berkawan dengan angsa-angsa, dan yang lama dipelihara adalah kucing. Hehe…

Momennya saat itu, bahkan masih hingga saat ini memang ‘pas’ untuk berlibur atau offline dari gunung ‘maya’. Kota Kupang sejak Desember, bahkan kalo tidak salah sejak november sudah di’anugerahi’ musim hujan, tanah-tanah membasah minta di’santuni’ kesuburannya, benih-benih menggeliat berlomba menggapai sinar matahari. Itulah masa dimana orang-orang Kupang terjun ke tanah, menanami dengan berbagai komoditas perkebunan. Hanya di daerah2 tertentu yang ketersediaan air tanah bahkan air permukaannya melimpah tidak kenal musim, seperti oesau, baumata. Sementara di tanah kami, penfui…hmmm berkejar-kejaran dengan datangnya hujan.
Enaknya, anjangsana sore hari, sehabis pulang kampus, sehabis istri pulang dinas, sehabis anak pulang dari sekolah atau TPA, disoroti cahaya lembayung senja, kami masih sempat berkumpul dan bersyukur menikmati alam pekarangan, duduk-duduk di dekat pepohonan ketela, disuguhi alunan daun pisang diayun sang angin, mengamati segerombolan buah pepaya yang ranum, menjulur sulur bunga pepaya yang enak kalao di-urap, di terapi warna-warninya bunga-bunga, merah ‘merona’ bahasanya Ata, hehe… ditemani 2 ayam tersisa ( setelah 1 mati, 2 hilang dicuri🙂 ), dikerubuti 8 ekor kucing yang mengeong minta jatah tak henti-henti, dan ini yang menarik…. Diteror oleh sepasang angsa yang ber-ngak-ngak’ dengan suara menjulang tinggi. Tak kenyang2 binatang2 ini meminta jatah. Hingga beras bulog jatah istri-pun, menjadi porsinya mereka. Alhamdulillah, ada…

Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya
Mungkin anda berfikir, apa sih istimewanya? Betul, tidak ada yang istimewa dengan semuanya, kecuali satu hal yang biasa-biasa saja, yang kadang2 justru sulit untuk di-nikmati, yaitu kesederhanaan dengan apa adanya. Semuanya, tidak terlepas dari pelajaran, hikmah kehidupan. Ajaran Orangtua-lah yang banyak berkontribusi dalam memanajemen kehidupan. Mencoba berkebun, memelihara piaraan, bersenandung dengan alam, harmoni dengan kehidupan adalah pengalaman-pengalaman masa lalu semasa masih dibawah bimbingan orangtua. Ada kerinduan, ada kelegaan ketika masa lalu bisa diwujudkan di masa sekarang. Bakti anak pada orangtua tak ada habisnya, walau dalam bentuk yang amat sederhana. Walau orangtua hanya mendengar implementasi ajarannya dalam sebentuk cerita.

Itulah serpihan kehidupan, Buah jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s