Seputar Sasando 04: Sasando Elektrik, New Generation !!

Posted: Desember 15, 2010 in Budaya
Tag:, ,

——————————————————————————————————————–
Liputan6.com, Jakarta: Indonesia memiliki beragam alat musik tradiosional. Salah satu nya adalah sasando. Alat musik tradisional yang memiliki arti dipetik ini berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Kini dengan sedikit modifikasi, ada sasando elektrik. Meski modern alat musik ini tetap mempertahankan bentuknya yang klasik, yaitu beresonansi daun lontar.

Di Indonesia, sasando terbilang langka. Apalagi makin berkurangnya minat anak muda yang memainkan alat musik itu. Padahal dengan modifikasi elektrik tak tertutup kemungkinan bisa bersaing dengan alat musik masa kini. Ironisnya, malah bangsa asing yang kerap memesan sasando. Tentu kita tak ingin lagi kehilangan harta budaya bangsa karena diklaim milik bangsa lain.(IAN/David Silahooij dan Johny Marcos)
——————————————————————————————————————–
Tentu kita akan berfikir, apa yang ditulisankan liputan6.com benar adanya. Pertama, Sasando Elektrik telah menampilkan wajah baru sebuah alat musik tradisional, yang dikuatirkan akan hilang ditelan jaman, dijauhi generasi muda, bahkan kerugian budaya bangsa. Tapi, nyatanya ‘pamor’nya malah makin moncreng, bahkan sampai ke mancanegara.

Yang kerap memesan adalah bangsa asing?
Tidak dapat dipungkiri, benar adanya. Bangsa kita ya, sepertinya baru sadar akan pentingnya aset budaya nusantara setelah diobok-obok batik-nya, pendet-nya oleh Malaysia. Bangsa lain begitu perhatian dengan tingginya seni budaya bangsa kita, sehingga tidak segan-segan mentransformasikan ke ranah global. Kita sendiri bagaimana? Seperti itukah bentuk perhatian kita? Rasanya tidak.

Demikian juga dengan Sasando, orang asing lebih ‘tertarik’. Mereka selalu berkata, “wow wonderfull !”. Ada alat musik yang begitu unik dan lengkap. Cara memainkannya yang sangat menawan. makanya, tamu-tamu gubernur NTT seringkali terpana setiap diberi cinderamata ‘Sasando’.

piagam dari pemprov

Perhatian pemerintah-pun mulai ada. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, pada juni 2009 dalam pembukaan Festival Sasando ( yang sudah jadi agenda tahunan ) memberikan hak paten kepada penemu alat musik sasando elektrik, Arnoldus Edon (almarhum). Jero Wacik mengatakan, sasando, alat musik yang berasal dari Rote ini, merupakan salah satu ikon alat musik NTT yang perlu dipromosikan dan dilestarikan. “Hak paten ini bertujuan supaya tidak ada yang menduplikasi dan mengaku sebagai pencipta. Selain itu, orang yang membeli alat ini tahu asal-usul alat musik tradisional ini,” terang Jero. (pos kupang, 06 2009). Sebelumnya juga telah diserahkan Piagam Penghargaan dari Gubernur Nusa Tenggara Timur saat Hari Ulang Tahun Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ke 50, pada tanggal 20 Desember 2008 kepada Almarhum Arnoldus Edon, yang berjasa dan berprestasi dalam bidang Kesenian khususnya sebagai orang pertama yang membuat sasando listrik.

Jangan ditanya festival atau even di lingkup NTT, sasando sudah melekat didalamnya. bahkan, Sasando di bulan oktober juga mendapat apresiasi tinggi pada festival budaya di teipei.

Akhirnya, Semoga generasi muda NTT khususnya, dan bangsa Indonesia umumnya, bisa melestarikan dan mengenalkan labih jauh Sasando di dunia Internasional. Apa yang sudah dirintis oleh Yusuf Nggebu, Jeremias Pah dan Almarhum Arnoldus Edon-lah sasando bisa diterima di jagad permusikan dan budaya dunia, peran dan hasil karyanya sudah selayaknya mendapatkan tempat terhormat di negeri ini.

Generasi penerus Sasando Elektrik : Habel Edon
kalau saya boleh menilai, sosok Habel Edon sangat kompeten dalam ilmu sasando. Mungkin satu-satunya tokoh NTT saat ini yang ‘paling layak’ menjadi sumber informasi media di dalam menggali ke’sasando’an. Mengapa begitu? Beliau sejak kecil sudah mewarisi kemampuan ayahnya membuat dan memainkan sasando.

Baik membuat berbagai jenis sasando, yang tradisional dan elektrik, berbagai ukuran dapat dibuatnya dengan sangat lihai. Hasil karyanya sangat bagus. Semuanya hand made, bahkan elektrik spull-nyapun beliau buat sendiri, menggulungnya sendiri. Semuanya…. bahkan sebagian besar peralatan produksinya dibuat sendiri, yang ‘layak; dipatenkan juga. Aq yang banyak bergelut dengan listrik magnet di ilmu fisika-pun dibuat terkagum-kagum. Kualitasnya jangan ditanya !!! Jempolan.

Memainkan lebih lihai lagi. Tapi jangan memintanya ikut festival sekelas IMB ( Indonesia Mencari Bakat), Got talent !. Tidak mungkin ada waktu, dan menurut aq Beliau tidak mau berkarakter menjadi selebritis. Tidak ada waktu, hehe…, tapi festival2 even besar sudah menikmati kelihaian petikan tangannya. Karakternya sederhana tapi sangat kuat. Dan kalau anda bertanya tentang sasando dari nol sampai manapun, dilalapnya. hehe…

Selamat berkarya dan Sukses !!!

Komentar
  1. Yandres Nggebu mengatakan:

    Sasandu hanya ada dua jenis, yaitu sasandu Gong atau tradisional, kenapa dikatakan sasandu gong karena not yg dimiliki sama seperti not yg ada pada gong org rote, yaitu do re mi sol la. ( Pentatonik ) ini yg di ciptakan oleh Sangguana dari Pulau Rote Sasandu Gong hanaya bisa memainkan lagu2 etnik atau tradisional org Rote. Dan pada sekitar tahun 40 an seorang Toko seniman Rote bernama Cornelis Frans memodifikasi Sasandu Gong menjadi Sasandu Biola, Sasandu Biola adalah Sasandu yg dapat memainkan semua jenis lagu, baik Pop tradisional dll, kenapa bernama Sasandu Biola krn beliau terinspirasi oleh Biola, dengan memiliki nada do re mi fa sol la si (Diatonik), memang benar salah satu kelemahan dari sasandu adalah sangat kecil bunyinya hal inilah yg menginspirsai Pak Edon untuk memasang fasilitas elektrikal pada sasandu, pada Sasandu Gong maupun Sasandu Biola keduanya bisa dipasangkan fasilitas elektrikal, demikian tambahan dari saya kiranya berguna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s