Seri Mudik 04 Filosofi antara Alun-Alun dan Masjid Jami

Posted: September 11, 2010 in Traveling
Tag:, , , , , , , , , ,

Aq, Jowo ning ora Jowo
Entah apa filosofi yang mendasari ciri khas unik sebuah kota tanah Jawa yaitu adanya alun-alun dan Masjid – yang selalu di sebelah baratnya. Aq gak faham, walaupun orang jawa. Bahkan banyak yang tidak kupahami tentang ‘jawa’, lebih mungkin karena dulu ada bahasa daerah, tapi yang kuingat dan terasa ‘menyebalkan’ lebih terfokus pada menulis huruf jawa ‘honocoroko dotosowolo podojoyonyo mogobotongo’. Lafaznya masih hafal, tapi jangan suruh aq menulis hurufnya, gak hafal blass. ‘Boso jowo’ level ‘kromo’-pun ‘gratul-gratul’ campur dengan jawa kasar. Apalagi sejak kuliah ada di tanah rantau, makin hancur saja identitas ‘jawa’ yang aq miliki.🙂

Paradigma Pe’makna’an: ada-ada saja…
Nah, mudik di dua kota Jawa Timur, yaitu Pasurusan dan Nganjuk, ini terasa ‘tidak lengkap’ kalau tidak mengunjungi titik ‘pusat kota’ tersebut. Aq tidak tahu juga, bagaimana para pendahulu ketika menentukan titik ‘pusat massa’ kota. Apakah pake cara ilmiah, musyawarah, ilmu ghoib atau primbon atau apa itu namanya, tidak tahu. Kalau pake metode fisika, dari anak SMA-pun sudah tahu !, tapi ini bukan sekedar persoalan ‘ilmu pasti’, apalagi di Jawa, hal seperti ini tidak ada pastinya.

Masih banyak lagi, menyangkut membangun rumah, melakukan perjalanan, pernikahan dsb ada hitung-hitungan hari dan tanggal baik. Aq persisnya samar-samar ingat dulu waktu masih kecil, saat kakak pertama mau merantau, dilangkahi dulu sama orangtua di depan pintu. Gak tahu apa artinya, yang jelas setelahnya, saat adik2nya pergi merantau kuliah dan kerja, hal itu tidak berlaku lagi. Waktu yang berlalu, modernisasi muncul, nilai-nilai budaya jawapun terkena pengaruh. Orang-orang jawapun mulai bisa bersikap rasional.

Tapi bukan berarti semuanya menjadi lebih baik, tidakk !!!. Aq orang jawa yang lupa bahasa krama jawa, itu efek ‘buruk’nya, Tatakrama dan filosofi hidup Jawa yang memiliki makna dalam juga semakin tergerus, sehingga banyak orang jawa sendiri menilai, “ini tanah jawa kok sudah tidak seperti di jawa !”. Hehe… untung aq tidak lagi ‘nyeker-nyeker’ di tanah jawa jadi gak punya beban ‘leluhur’🙂 .

STOP Ngelantur !!!
Kembali ke alun-alun ( -karena akan banyak ngelantur, saat raga dan jiwa ini ‘in memoriable’ ). Kalau sekilas di lihat, Keberadaan alun-alun juga mencerminkan tingkat kultur sekaligus kesejahteraan rakyat di kota tersebut. Dan kalau boleh membandingkan, antara Nganjuk dan Pasuruan ya lebih ‘baik’ kota Pasuruan. Labih ‘baik’ disini sangat normatif, karena

hanya dilihat sekilas dari perubahan fisik alun-alun dari sejak aq mudik tahun 2007, dimana kedua alun-alun masih dipenuhi oleh pedagang2 kaki lima sehingga terkesan alun-alun sebagai pusat jualan alternatif, selain di pasar atau trotoar. Dan yang ‘kurang nyaman’ maraknya jualan VCD dengan musik keras2 padahal sebelah baratnya ada masjid.

Kita lihat Alun-Alunnya….

Filosofi Pohon Beringin
Ada sesuatu yang istimewa diantara hampir semua alun-alun yang ada di tanah Jawa ini, yaitu pohon beringin yang ada di tengah-tengah bagian alun-alun. Biasanya, terdapat dua pohon beringin besar yang diberi pagar, yang mempunyai makna bahwa seorang pemimpin itu harus bisa memberi pengayoman kepada rakyatnya. Saya tidak ingat apakah dulunya, di situ ada Pohon Beringin, atau mungkin sengaja tidak di tanami pohon, yang menurut sebagian orang Jawa, memiliki kecenderungan ‘wingit’ di jaman dahulu.

Di Alun-alun Kota Pasuruan, Pohon Beringin sudah diganti menjadi Kolam Air mancur, yang ‘bisa’ dimaknai sebagai pendingin kota, salah satu fungsi dari pengayom. Sedangkan di Alun-alun Nganjuk, pohon Beringin di tengah2 tetap masih berdiri gagah, bahkan di beberapa pojok juga tetap kokoh tumbuh pohon2 pendingin.

Filosofi Jalan Tengah Alun-alun

Alun-alun juga terpisah oleh satu jalan tengah yang membelah alun-alun menjadi dua bagian yaitu bagian barat dan bagian timur. Jalan tengah itu menuju pendopo yang berada di sisi utara alun-alun. Jalan tengah mengandung makna bahwa rakyat yang akan sowan atau berkunjung ke rajanya atau pemimpinya harus menampakkan diri atau memberi salam sehingga lebih sopan, dibandingkan melalui jalan samping. Pembagian alun-alun di sebelah barat mempunyai makna kebaikan karena di sisi sebelah barat biasanya terdapat masjid, dan sisi sebelah timur melambangkan keburukan karena biasanya di sisi sebelah timur terdapat pengadilan ataupun penjara.

Alun-alun Kota Pasuruan, konsep pakemnya sudah berubah, jalan tengah yang membelah alun-alun adalah membujur timur ke barat, dengan gapura hijau yang lekat ciri religi-nya. Sedangkan jalur arah utara selatan ditiadakan. Lebih dimaknai peran sentral Raja dimasa lalu, saat ini tergantikan dengan lebih menekankan konsep Ketuhanan, dimana umat lebih diluruskan ke Masjid Jami. Sisi utara bukan pendopo, tetapi kantor pos dan tower PDAM, dan sebelah timur adalah pemukiman. Sedangkan di Alun-alun Nganjuk, Kedudukan jalur2 tersebut masih tetap ada, dipertahankan fungsi aslinya, tetapi pendopo di sebelah utara sudah tergantikan oleh kantor Polisi dan SMP, sedangkan sebelah timurnya justru pendopo, Nah Lho?

Bagaimana Masjidnya ….
Dari sisi kultur ‘muslim’nya sendiri, masjid Jami Pasuruan lebih lekat dengan peran ke’ulama’an di masa lampau. Diperkirakan dibangun pada tahun 1950 oleh Sayyid Hasan Sanusi atau mbah Slagah, bercorak Timur Tengah dan Modern. Di bagian belakang kawasan kompleks masjid ada makam sejumlah ulama di Pasuruan antara lain Habib Hadi bin Shadiq, Habib Hadi bin Salim, KH Ahmad Qusyairi bin Shiddiq serta dua menantunya KH Ahmad bin Sahal Basyaiban dan KH Abdul Hamid bin Abdullah. (Baca di sini ). Masjid yang tidak pernah sepi dari jamaah ini oleh masyarakat Kota Pasuruan yang sering disebut kota Seribu Pondok ini, dijadikan pusat dakwah penuh dengan kedamaian.

Bahkan, setiap malam Rabu, masjid ini dipastikan dipenuhi jamaah yang mendengarkan ceramah dan tidak hanya itu, setiap hari masjid ini tidak pernah kosong dari jamaah. . Sedangkan di Nganjuk, justru bukan di Masjid Jami, yang lekat dengan kultur keulamannya, tetapi di Masjid Al Mubarok yang diperkirakan dibangun sejak 1745, saat seorang Wali Allah, Kiai Kanjeng Djimat yang juga Bupati pertama Nganjuk, mengembangkan Islam di wilayah Berbek – nama kota kabupaten, sebelum dipindahkan ke Nganjuk. Dekorasinya kental dengan nuansa jawa kuno Hindu. (Baca di sini ).

Perubahan pakem alun-alun ternyata lebih dipengaruhi perkembangan sosial kemasyarakatan tanpa menghilangkan makna asli alun-alun. Kota Pasuruan yang lebih kental dengan nuansa religius-nya mensinkronkan dengan keberadaan sentral dari Masjid Jami Al Anwar, sedangkan Alun-alun Nganjuk lebih natural dengan konsep budaya jawa-nya, sehingga tidak mengalami banyak perubahan.

Gak Jowo, Sok Keminter🙂
Apakah dari sisi ‘kultur’ Nganjuk lebih jelek dari pasuruan ? Tentu tidak, masih2 punya karakteristik. Kalo aq bilang iya, aq bisa dimarahi orang se-Nganjuk, dari sisi apa aq bisa menilainya? Apalagi kalau ditanya kapasitas dan kompetensinya, hehe tengsin pasti. Bocah kok sok ‘keminter’ !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s