Seri Mudik 02 Ritme Kota Ritme Nadi Budaya

Posted: September 2, 2010 in Traveling
Tag:, , , , , , , , ,

Ketika Orang ‘Rumahan’ ke ‘Lapangan’

Bagi orang ‘lapangan’ yang memiliki daya jelajah atau ‘mobilitas’ tinggi atau mungkin pekerjaannya menuntut seringnya ‘bepergian’ sepertinya lebih memiliki ‘keterbukaan’ kultur dibandingkan dengan orang rumahan, kerja kantoran atau di lingkungan terbatas. Saat orang ‘lapangan’ dengan cepat beradaptasi dan mudah ‘menikmati’ suasana, orang ‘rumahan’ mungkin masih mengalami ‘delay’ kesadaran dan berusaha memahami arti ‘keberadaan’. Saat orang ‘lapangan’ sudah bertindak, orang ‘rumahan’ baru melihat2 dan berkomentar, ….hehe
Itulah aq orang ‘rumahan’ yang mudik lebaran kali ini. Aq yang biasanya hanya berkeliaran di sekitar rumah setiap harinya, keluarpun hanya sekitar kampus di pagi sampai siang hari -3 menit dari rumah dan kalau lagi sadar – ke masjid di malam hari. Lebih jauh lagi, sore hari – kalau ada ngajar di PTS -20 menit dari rumah. Paling jauh kalau ada tutorial UT itupun 1 semester sekali. Jadi kalau dikategorikan, lebih tepatnya orang ‘kampungan’. Dunia luar? Hanya mengikuti dari koran, TV dan internet saja. Itupun bersifat visual, 2D dalam sekian inci. Apa jadinya kalau kemudian raganya benar2 berpindah jauh melintas batas jejak ?

Denyut Juanda…
Betapa ramainya, Betapa sibuknya. Juanda, bandara Internasional yang jauh berbeda dengan Eltari Kupang. Sibuknya luar biasa, mungkin setiap menitnya ada pesawat yang take off dan landing – dilebih2kan🙂, sesibuk pegawai2nya yang terus bergegas dalam tugas, berkeliaran tanpa memandang wajah-wajah orang. Di Eltari, hal seperti itu hanya terlihat saat ada jadwal pesawat yang tidak sepadat Juanda. pegawainya santai, bisa datang ketika jadwal tiba, serta pergi lagi mengurus toko, membongkar motor, bercengkerama, dll. Pernah aq mendengar cerita, orang Bandara yang berkesempatan pindah dari Eltari ke Juanda, bilang “ katanya, Hidupnya tidak lebih tenang” walau sudah di tanah jawa, sudah lebih dekat ke tanah kelahiran, karena ternyata beban kerja bertambah, tidak lagi memiliki waktu mengikuti majlis taklim atau pengajian, persaudaraan tidak setulus seperti di perantauan. Benarkah ? Wallahu…

Bis dan Harga Diri Manusia
Mobilitas yang tinggi dari sebuah kota besar seperti Surabaya, telah didukung adanya terminal Bis angkutan manusia, Purabaya atau teminal bis bungurasih. Purabaya tidak pernah tidur. Ribuan bis tiap harinya keluar masuk, datang dan menuju seluruh jalur ke ’luar’.

Aq dan Aik, 3 hari pertama harus ke rumah Yang Kung dan Yang Ti, Bapak-Ibu Mertua di Pasuruan Kota. Bis sudah kita dapatkan, klas ekonomi yang sudah siap berangkat. Melalui jalan Tol Krian Sidoarjo, menyisir benteng lumpur Lapindo, Arah timur ke Bangil sampai di Pasuruan. Nyamankah? Yah, kita buat senyaman mungkin walau sebenarnya tidak nyaman. Sambil mengamati ‘keberadaan’ orang2 yang naik turun, berdiri berdesak-desakan di lorong , pengamen jalanan yang silih berganti mendendangkan lagu2 ‘kocak’ ala Iwan Fals. Aik, yang terkesan dengan gaya pengamen seperti ‘Klanting’ di IMB, tidak segan2 keluarkan 1000 perak setiap tampilan, belum tahu bahwa show masih akan berlanjut dengan group berbeda sepanjang perjalanan.

Inilah fenomena sosial yang ‘amat’ berbeda dengan di Kupang, NTT. Pengamen? Di Kupang tidak ada. Karena pekerjaan itu dianggap ‘hina’ merendahkan martabat, sementara di Jawa, itu adalah pekerjaan ‘halal’. Praktis di Kupang, tidak ada yang namanya ‘genjrang-genjreng’ lalu meminta uang. Sebagai penggantinya, di setiap angkot atau Oto di Kupang dilengkapi sound system yang ‘memekakkan telinga’ dan menggetarkan ‘jantung’ kita. Percaya atau tidak, Oto yang tidak ada ‘fasilitas’ itu jangan harap dihampiri penumpang ‘muda’. 🙂

‘Harga diri’ orang Kupang jugalah yang membatasi ruang gerak ‘ekonomi’ kelas bawah. Mereka menjual barang dari ‘alam’ dengan cara yang alami juga. Lain haknya di Jawa, betapa tidak, apapun bisa berubah jadi ‘uang’. Bahkan dari sampah, ban bekas, atau ranting kayu-pun ‘kreativitas’ yang muncul untuk melipatgandakan nilai ekonomi sebagai sumber nafkah.
Apapun perbedaan itu, Ritme Kota memang selaras Ritme Nadi. Demikian juga tradisi mudik-nya orang jawa, dialami juga oleh orang2 NTT ketika hari raya Idul Fitri, Paskah, Natal. Bedanya. Karena propinsi ‘kepulauan’ maka jalur Laut dan udara lebih dominan di banding jalur darat. Di jawa, ‘muacet ’ terjadi karena ruas jalan darat tidak lagi menampung membludaknya orang dan barang yang bergegas ‘menuju udik (mudik)’. Wong tidak ‘mudik’ saja sering macet, hehe…

Merepet Ketiak
Ya, 3 menit menuju gedung Wolu, tempat kami turun, Aq dan Aik harus merepet di sela ketiak penumpang yang berdiri untuk menuju pintu depan –dalam keadaan bis berjalan kencang. Jadi harus tetap waspada ‘berpegangan erat2 di ujung2 kursi biar tidak jatuh terjengkang. Kalau kesempitan, diperbolehkan setengah cuek, untuk mendesakkan badan agar bisa lewat, karena saat itu situasinya adalah aq ya aq, kamu ya kamu. Kejam juga orang jawa saat seperti itu. Gak peduli orang tua berdiri, yang muda di kursipun, cuek karena sudah membeli ‘karcis’ sendiri. ‘Liberalis ala Bis Kota’. Lho, kenapa harus berdiri dari kursi, khan tinggal kasih kode ke kondektur, “ stop gedung Wolu” !. Tidak bisa, kalau begitu engkau akan turun lewat 100-an meter. Karena bis sarat muatan dan berlari kencang. Di Kupang begitu jugakah?
Ini yang aq suka di Kupang. Karena hanya angkot kecil, penumpang terbatas tidak berjejal, sehingga sekali kasih kode anda akan turun tepat dimana anda inginkan. Bagaimana kalau lewat, kasih minta ke konjak (istilah kondekturnya) untuk mundur, mereka patuh. Penumpang adalah Raja.🙂

Akhirnya kami turun bis, naik becak menuju rumah Yang Kung Yang Ti, inilah alat transportasi ‘paling nikmat’ anti macet, semilir angin alami menerpa, sambil ngobrol dengan bapak pengayuh-nya, dengan nuansa ‘ polos’ dan ‘jujur’ ala rakyat kecil sepertiq juga. Karena, dimana kita bisa nyaman dan terbuka menuangkan ‘isi hati’ disitulah habitat kita ‘sebenar-benarnya !.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s