Ata & Lomba Menggambar di Gebyar Anak Kota Kupang

Posted: Agustus 15, 2010 in Prestasi, Seputar Kupang
Tag:, , ,


Pagi itu, di 4 agustus 2010 aq harus mengantar anakq no.2 Isaac Thesisabie Khatami Shabri atau panggilannya ‘Ata’, yang sekarang berumur 5 lebih. Biasanya, hal-hal yang berkaitan anak2 ibunya yang lebih berperan – kebetulan juga jadi pengelola PAUD di Masjid Al Mujahidin – Penfui, tapi dipagi itu di kantornya dinas koperasi lagi ada kesibukan. Ada pergantian kadis, katanya. Ya sudah, Ayah mengambil peran, yaitu antar-dampingi Ata mengikuti lomba menggambar di Gebyar Anak Kota Kupang.

Pekerjaan gampang, apa sih susahnya, hehe…. Masuk ruangan di Kantor Walikota lantai 3, suasana sudah ramai skali. Riuh rendah suara anak2 PAUD se-kota Kupang, diselingi celoteh dan teriakan mama papa pendamping, pengelola bahkan panitia, membuat suasana begitu meriah dan ‘kacau’ (hehe,…tidak biasa).

Pekerjaan yang gampang, jadi tidak menjadi gampang ketika anak2 harus duduk rapi di depan,sementara orangtua harus di belakang. Betul kata panitia, ” Mama Papa, tolong bebaskan anak2 mandiri, karena kapan lagi mereka bisa belajar untuk menjadi anak yang berani dan mengambil keputusan sendiri”. Kita orangtua maunya khan, memprogram anak sesuai dengan persepsi otak kita, yang merasa sudah dewasa dan lebih pintar. Nah, proses anak, pada masa ‘golden age’nya lah yang kadang-kadang kita tidak fahami secara utuh, bahwa anak ada masanya berkreasi sendiri.

Tapi, bukankah mengikutkan lomba menggambar menjadi bagian dari menciptakan daya kreasi anak? iya betul, tapi pada sisi yang lebih luas ternyata aq sadari anak juga perlu didorong kemandiriannya. contohnya duduk sendiri dengan anak2 yang alin, dan orang tua jauh di belakang.

Ata, yang selama ini aq anggap sudah punya potensi kemandirian, pada situasi tersebut agak ‘rewel’ juga. Kebetulan dalam lomba itu dari PAUD Nasyiah Al Mujahidin, hanya mengikutkan 2 peserta, temannya belum datang. Sehingga Ata merasa sendiri. Bagaimana tidak sendiri, anak2 lainnya dari sekolah berangkat rombongan, didampingi ibu2 gurunya, sementara Ata didampingi ayahnya,hehe…Maka, sering-seringlah dia lihat ke belakang mencari ayahnya, dengan menunjukkan wajah ketidaknyamannya. Ayahnya, seperti biasa, hanya kasih kode… duduk tenang saja ya, apapun yang terjadi. Mungkin pikirnya Ata, justru karena tidak ada ‘yang terjadi’ karena acara belum dimulai2 menunggu Bapak Walikota membuka acara, sehingga Ata tidak tenang.

Lengkap sudah, Ata Haus, tidak ada teman yang satu sekolah, ribut membuatnya boring, so tidak tenang di bangkunya. Sempat nangis, iya🙂, karena pas aq tinggal ke ruangan samping mencari tempat duduk, Ata mencari ayahnya tidak kelihatan. Mungkin merasa sendiri, hehe…

Untungnya, sebelum acara menggambar dimulai ibunya datang, Alhamdulillah. Ata jadi cerah, hehe… bahkan sebelum menggambar, sikapnya begitu tenangnya, sesekali lihat ke ayah, ibunya sambil senyum-senyum, hehe. Coba, kalau hanya lihat ayahnya, pasti agak tegang. Itulah kelebihan ibu, ya… harus di akui.

Begitu acara dimulai, Ata langsung menggoreskan gambarnya dengan keyakinan tinggi. Wah senang juga aq sebagai ayahnya dengan gaya-nya. Begitu menguasai bidang gambar, konsentrasi tinggi tanpa menolehkan wajahnya dari goresan-goresan di kertas gambarnya. sementara anak-anak yang lain harus bisiki bahkan diteriaki oleh ibu gurunya, atau papa mamanya utk menorehkan gambar.

Para pengelola, panitia, papa mama melihat dari penggir mengamati anak2 menggambar. Sebagian membimbing lewat kata2 untuk anak utk menggambar ini-itu. Ditengah-tengah acara, (kata ibu Ata, karena saat itu ada mahasiswa datang minta tanda-tangan skripsi, jadi aq keluar ruangan) ada seorang bapa, berceloteh, “wow itu anak, gambarnya bagus sekali, pasti digambarkan”, sambil menunjuk ada Ata. Hehe… ibu Ata tidak terima, langsunglah bapa tersebut didamprat, hehe.. ngacirlah si bapa.🙂 .memang tidak fair, menuduh seperti itu, semua orang juga tahu, panitia dengan ketat mengawasi lomba, bahkan posisi Ata ada di tengah2 peserta yang lain. kalau ayah-ibunya menggambarkan pasti langsung di-diskualifikasi. hal yang tidak mungkin kami lakukan !!! Bahkan harus kami akui, dalam hal menggambar, Ata lebih berbakat dibanding kakaknya, Aik. jadi, wajar ibunya berang, kreatifitas Ata dilecehkan, hehe…

Semua yang lihat, kagum dengan kelincahan tangan Ata, bahkan beberapa anak peserta di sekitar Ata tidak konsen dan malah menonton Ata menggambar. Bahkan beberapa panitia selesai acara, menyampaikan pujian. Hehe… anak siapa? Astaghfirullah… mulai gede rasa.🙂

Ya, itulah kesan2q. Orangtua hanya memegang amanah untuk membekali anak untuk siap pada kehidupannya kelak di masa dewasa mengarungi dunianya sekaligus mempersiapkan mental rohaninya untuk kehidupan akhiratnya. Bahkan, saat mengantar anak ikut lomba mewarnai di Expo Ramadhan beberapa hari lalu, seorang kenalan yang kerja di PT Semen Kupang, berkata, “Anakmu bukan milikmu, orangtua tidak boleh menahannya untuk kepergian anak demi kebaikan dunia-akhiratnya kelak. Justru sikap ‘merengkuh dalam pelukan’ orangtua seperti itulah yang menjuruskan anak”. Hal tersebut dikatakan oleh seorang ustadz padanya, saat mengasihani anaknya yang harus terpisah darinya untuk memulai kehidupan di pondok pesantren.

Apapun, semua yang kita lakukan pada dasarnya utk kebaikan anak !!!. Hanya kadang2 jalan yang ditempuh orangtua ‘kurang benar’. sebuah refleksi utk orangtua Ata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s