​​Ini pengalaman perdana, naik kereta setelah dimodernisasi sistemnya oleh Jonan. Asyik, banyak perbedaan mendasar yg membuat calon penumpang seperti sy lebih kesengsem, sebagai penggemar berat kereta api..hehe

Jejak berkereta terdahulu, yg sempat kami tuliskan adalah Sang Logawa kereta rakyat jelata. di tahun 2010, 6 tahun yg lalu. 

atau silahkan baca di link: https://kupangntt.wordpress.com/2010/09/11/seri-mudik-03-sang-logawa-kereta-rakyat-jelata/

Ata, Azka memang kami rencanakan utk bisa mnikmati naik kereta api jauh2 hari. Bahkan dari sejak dari Kupang, sdh kami cek ketersediaan tiket rute Nganjuk -Pasuruan, setelah menghabiskan waktu lebaran di desa Jatigreges, Kec Pace Kab Nganjuk. so…my plan must go on..

Ada 2 kereta Ekonomi, arah Jember Banyuwangi, yaitu Sri Tanjung jam 11.10 dan Logawa jam 12.54 siang. 1 minggu sebelumnya, kami cek online Logawa masih free 40-an sheat, so itulah pilihan terbaik. Bisa dzuhuran lebih dahulu di Mushola Stasiun, dan harganya lebih murah, hanya 74k dibandingkan Sri Tanjung 95k. Okee… Tapi ada sedikit gangguan, sistem online maceet, mungkin karena trafficnya naik, sehingga pagi itu sehabis sarapan, sambil jalan2 sy ajak anak2 berburu tiket langsung di stasiun. Walau antri sejenak, akhirnya dapatlah tiketnya..Siip

Hari ini, tgl 19 Juli 2016, Jam 11.50 siang tiba kami di Stasiun diantar dik Imam. Trus langsung beranjak ke dalam. Cek KTP, bawa yg asli saat masuk ruang tunggu. Lancar, tdk ada kerumitan, hanya saat petugas melihat kami bawa pohon jambu Darsono, mereka meminta dibungkus yg rapi. Dikuatirkan nanti mengundang kambing mendekat gerbong kereta..haha bercanda.Yg jelas, kami nyaman dan menikmati dlm lingkungan kerakyatan apa adanya, seperti bisa menikmati maem dlm stasiun, hihi

Didalam, suasana tenang, leluasa, cukup bersih, tidak seperti jaman sebelumnya, dimana lalu lalang calon penumpang berbaur dg antrian tiket, dan pedagang jajanan minuman yg mondar mandir menjajakan dagangan. Semrawut, tak keruan, khas layanan komunal tradisional.

Waktu Dzuhur sdh masuk, sy ajak Ata menuju mushola, rapi, bersih, toilet di sebelah juga bersih, sangat bersih dg peruntukan yg jelas. Aq masih ingat, jaman dulu.. toilet ga bersih, berlumut coklat, ditungguin seseorang yg menarik sumbangan. Terpaksa saja kalau lagi membutuhkan. Tapi yg saat ini, sudah gratis biaya, bersih lagi… ehmm

Dari rencana jadwal 12.54 diumumkan kereta terlambat 21 menit..cukup lama, tapi tdk menggerutu, krn sdh cukup fair pihak pengelola mengumumkan dan memberi informasi posisi kereta saat itu. Okee…akhirnya, naiklah kami dalam kereta.

Inilah yg kami harapkan. Gerbong kereta ekonomi, tapi dingin, bahkan lumayan menembus kulit. Tidak kepanasan seperti jaman dahulu..hahaha. Nomor gerbong dan kursi sdh ditentukan, bahkan utk barang bawaan ekstra kayaknya masih tetep ditolerir, cuma tdk ditempatkan di bagasi atas, tetapi ditaruh dilorong ujung gerbong. No problem… Tetap akomodatif, sebagai moda sejuta umat, yg cukup memanusiaakan manusia. Ingat2 jaman dahulu, kita naik berjejal-jejal berebutan, saling sikut sodok, desak desakan. Bayangkan yg bawa anak kecil…hehehe. 

Sudah dingin, kursi yg cukup empuk dan bersih, dikasih tambahan fasilitas 2 colokan listrik di tiap deretan sheat yg ada. Sepertinya, manajemen tahu betul, bagaimana memanjakan penumpang, yg tidak bisa terlepas dari gadget di jaman ini. Hahaha…

Apapun di dalam bisa dinikmati, dg maen handphone, main kartu malah ( itu aq lihat ada 4 mhs arah Jember,  di seberang sheat duduk aq), menikmati pemandangan alam terbentang yg eksotik di luat jendela, tak abis2nya, atau sekedar jalan2 di dalam gerbong, di selasar antar gerbong, atau kalau mau dari gerbong ke gerbong lain sejumlah 10 gerbong, hahaha…
Yang perutnya kelaparan, tidak dilarang makan bekalnya, atau membeli dari pramusaji kereta yg keliling menawarkan. Lebih baik, anda membawa bekal, sehingga apa yg disuka tdk repot mencarinya lagi, karena disetiap gerbong, setiap stasiun tdak ada lagi pedagang jualan leluasa  masuk dan menjajakan dagangan dalam gerbong.
Satu yg menurut sy ada yg hilang, yaitu tidak ada pengamen gerbong yg mirip grup klantingan, biasanya menghibur ringan dg nyanyian2 jenaka, tidak ada lagii… coba kalo di tiap trayek, disiapkan musik klantingan. Pasti lebih asyiik…hahaiii
Saat aq menutulkan cerita ini, kereta sdh sampai melewati kali Porong, dan menuju stasiun Bangil di jam 16:58. Bagusnya, setiap menuju stasiun pemberhentian berikutnya, selalu diinfokan seperti di pesawat udara, baik nada dan alunannya.

Menurutku, inilah moda yg paling menarik, leluasa, murah meriah sekaligus modern, tetapi layak dalam layanan dan sangat manusiawi. Serasa naik peaawat tapi dengan keleluasaan lebih. Tidak perlu shelbelt, goncangannya justru melenakan. Bisa berkeliaran tidak takut kesasar, bisa ngerumpi dg penumpang lain tanpa batasan, bahkan ketika sudah longgar, bisa berdiri diri atau baring2 delosoran serasa kendaraan pribadi, hehehe

Anak sy begitu gembiranya, nyanyi2 seenaknya, berdiri jalan2, bahkan tidur2an sesukanya. Rekomendasi, bagi yg memiliki anak2, kasihlah pengalaman perjalanan jauh naik kereta, bukan hanya mengajarkan lagunya saja… naik kereta api tuut, tuuuut, tuuuut… siapa hendak ikut?
Ayooo…siapa yg berminat mencoba bagi yg belum… silahkan.
Alifis@corner

At the Train, LOGAWA 12:54 – 16.56 

Nganjuk – Pasuruan.

​Senyum bungah Emak di usia 73/ Tawa renyah Bapak di 85/ Sumringah  suasana alam semesta/ Lipatgandakan semangat seisi dunia/Alirkan ungkapan syukur tiada tara/ Atas anugerah Allah Subhanallahu wa Ta’ala/

Gemericik air wudlu membelah hening malam/Tahajud dan munajatnya menyibak kegelapan/Doa2 tak pernah putus tertelan jaman/Agar anak2mu slalu dlm jalan kebenaran/ Sehat, Slamat dunia akhirat dan selalu diliputi kebahagiaan.

Beliau2, orang tua termulia/Kami ber7 hadir mampir di dunia fana/7 menjadi 14, 14 menjadi 36/7 menantu, 18 cucu, dan 2 cicit tambahan/ episode masih terus dlm ikhtiar keturunan/ Dalam deret aritmatika 42, 56, 70, 84, 98, dan 114-an.

Sampai kapanpun, kami patuh, taat dan mendengarkan/ Semua nasehat dan wejangan njenengan, Emak dan Bapak tersayang/

Kasihmu tercurah tak terhingga/Do’amu melimpah seluas samudera/

Tak mampu ku..membalas/Hanya berbagi cerita dan selaksa do’a tak terbatas/

Dalam ruang dan waktu/Selalu dalam dekap nuraniku/

“Allaahummaghfirlii dzunuubi wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa Rabbayani saghiraan…” Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya sebagaimana beliau berdua merawatku ketika aku masih kecil…

Alifis@corner, Jatigreges Pace, Nganjuk

Setelah Id Fitri, dlm rangkulan Bapak Emak

130716 14:06

image

Potensi bentang Pesisir pantai di NTT sangat besar, dapat dikembangkan dan dimanfaatkan utamanya dibidang pariwisatapantai dan kelautan, bidang pendidikan, lingkungan hidup sehingga dapat menambah ( bahkan kedepannya bisa menjadi penyumbang terbesar) PAD kota, kabupaten dan propinsi NTT yang disertai peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

Ibarat dunia dongeng, pesisir pantai-pantai di NTT sangat menawan hati, tapi apa daya masih sangat alami, minim fasilitas dan akses transportasi yang sangat terbatas. Belum banyak investor yang berani mengambil langkah strategis sehingga potensi pesisir pantai dikembangkan tetapi tetap dalam gerak lambat. Pemerintah tetap menjadi pengambil peran sentral dalam menstimulasi dunia pariwisata di NTT.
image

Pada tulisan kali ini, aq tuliskan ekowisata menarik yang ada di wilayah pesisir yang melingkupi teluk Kupang, tepatnya didalam hutan bakau seluas ratusan hektar yang membentang sepanjang Pantai Oesapa Barat, Kota Kupang.

Aq diajak oleh istri dan anak2 setelah melihat share tempat tersebut di media online. Letaknya mudah dijangkau ( dari rumahq yang dipenfui dekat bandara, hanya perlu 13 menit ) dengan cukup menyusuri Jalan Timor Raya menggunakan kendaraan roda dua atau empat. 

Dari arah Oesapa, ikuti jalan belok kanan agak menurun yang bersebelahan tembok Supermarket Dutalia. Atau kalau dari arah halte Kupang, sebelum Dutalia belok kiri.
Di persimpangan, belok kanan sekitar 100 meter dari situ, ada jalan beton di sisi tambak ikan, dan susuri sampai ke tempat parkir.

Di hadapan anda terlihat hamparan hutan mangrove ( bakau ) yang cukup lebat membentang, dan anda bisa lihat sekeliling ada tambak ikan, beberapa rumah penduduk, dan jalan gerbang menuju jembatan kayu.
image
image

image

Di sekitar tempat parkir, penduduk sekitar berjualan aneka jenis panganan. Jadi pengunjung tidak perlu repot untuk mencari camilan atau sekedar menghilangkan haus dikala keringatan.

Usai memarkir kendaraan di tempat parkir, silahkan beli2 jajanan dan minuman yang tidak bawa bekal, terus naik ke jembatan kayu di depannya, untuk membayar kontribusi 5000 rupiah.

Jembatan kayu itulah sarana pengunjung tuk menuju pesisir dan melihat ke lautan. Dibuka dari pagi sampai jam 6 sore. Selalu ramai, utamanya di akhir pekan dan hari libur.

Panjang jembatan sekitar 230 m, selebar sekitar 1 m, dan mendekat di arah lokasi utama jembatan akan bercabang cabang keliling, disertai 2 buah lopo istirahat, yang representatif untuk duduk duduk sambil memandang panorama sekeliling. Menarik !!!
image

image
image
Sambil duduk duduk di pinggir jembatan, menikmati populasi bakau yang menghijau diselingi suara debur ombak, di arah teluk lepas silahkan bercengkerama, berfotoria, atau makan cemilan. Ingat, anda dilarang keras membuang sampah sembarangan. Jadi buang di tempat sampah atau simpan di kantong plastik anda sendiri, dan bawa pulang. Jangan buang di bawah jembatan kayu karena akan merusak lingkungan !

Udaranya sangat segar dan pada waktu waktu tertentu agak sepi anda bahkan bisa bersemedi, hahaha… Ada juga menara pengawas/ mengamat dari ketinggian bagi yang punya nyali menaikinya, karena tangga naiknya meliuk terputus.
image

Menarik memang, hanya sayang tidak ditambah dengan wahana pendidikan bagi pengunjung seperti pengetahuan tentang mangrove, yang tumbuh di sekeliling lokasi. Coba disetiap sudut dipasang informasi tersebut, tentu akan memberi nilai tambah dari sisi keilmuan. Mungkin itu peer untuk rekan2 di prodi Biologi Undana untuk mewujudkannya.
image

image

Prewedding ! pas ketika kami ada disana, menikmati suasana. Ada rombongan dari sepasang pengantin dengan fotografernya mematut diri dengan berbagai gaya prewednya. Percaya atau tidak pengunjung menjuluki jembatan kayu ini dengan sebutan ‘Jembatan Cinta’.

Jauh dari keramaian dan benar2 alami sunyi yang juga menjadi daya tarik anak muda mengobrol ringan berdua atau bergerombol seraya duduk diam di pondok mungil atau dipinggir jembatan cinta sambil mengayun-ayunkan kaki.
Moment yang paling asyik adalah di pagi hari dan favoritnya di senja hari.

Kalau pagi anda bisa menikmati suasana dengan lebih tenang dan sunyi karena pengunjng sedikit, sedangkan di senja hari,  sinar lembayung kuning kemerah-merahan menembus dan memantul di rerimbunan bakau, menjadi moment yang dinanti-nantikan pengunjung untuk menikmati sunset di ujung senja. Sungguh keindahan yang sangat memukau dan memikat hati siapa pun yang berada di situ.

Bagi penyuka alam sunyi, mendengarkan daun berbisik, hobi fotografi, di wisata Mangrove Jembata kayu ini, hasrat anda akan terpenuhi.
image

image

Sy yg menyukai alam, kedamaian, keindahan ciptaan Tuhan, dibuat terkagum oleh asrinya bakau, deburan ombak, dan kebahagiaan yg dpt sy rasakan. Demikian juga anak istri, amat gembira menikmati titian jembatan yg menembus hutan bakau, yg baru pertama kami temui dipesisir panta Teluk Kupang.

Datang, nikmati dan bersyukurlah pada Yang Kuasa. Allah SWT.

Terus terang, sy baru blajar mencuci dg mesin cuci. Selama ini istri tercinta yg selalu menanganinya. Bahkan diakhir pekan disaat istri baru sempat karena kesibukannya, bisa bergunung2 cucian harus dibereskan, dan sy tahunya bantu jemur, kering trus kadang2 ikut melipat.

Karena istri ada di luar kota, dan situasi memaksa dan memungkinkan sy dan anak kedua dirumah, mau tidak mau harus cuci sendiri, dengan mesin cuci yg sdh lama kami pake, sejak sekitar 2010-an, lupa2 ingat, sejak kami tempati rumah sendiri. Mesinnya cukup bandel, buktinya sampai sekarang masih oke-oke saja. Kalo tdk salah, sempat  ganti kapasitornya, atau itu punyanya kulkas yaa..haha lupa maklum sdh umur.

Karena belajar mencuci ya sekaligus cari infonya di google. Istri sempat beritahu, tp ingatan teknis pendek skali, shingga cepat lupa. Dapat di google, utk seri yg lain. Tapi teknis operasional Mesin Cuci SHARP ES-T85CL dg seri lain, kayaknya mirip2.. Jadi sy coba saja, sambil baca petunjuk, haha. Dan tidak susah kok, bahkan nantinya juga bisa bantu nih, tidak harus istri yg cuci. Ehm..ehm..

Seri ES-T85CL ini memiliki dua tabung, satu tabung untuk mencuci dan satu lagi untuk mengeringkan/memeras/spin (Spin-dry timer), bahkan dilengkapi proses pencucian yang unik, yakni tombol/knop pencuci (wash timer) dapat kita arahkan untuk mencuci sekaligus jeda untuk merendam. Nah, sy baru tahu teknologi beginian. Yg lebih canggih, setahu sy ya sekaligus mengeringkan, sehabis membilas. Mesin pintar.., !!!
image

Jadi bila kita putar pada posisi tertentu maka selama proses pencucian terdapat jeda beberapa menit untuk merendam, namun untuk menghemat waktu kita juga dapat melewatkan fitur ini yaitu dengan memutar knop pencuci ke posisi mencuci saja tanpa merendam.

Nah untuk bapak2 yg kebetulan punya pengalaman yg sama, dan belum pernah mencuci dan ditinggal istri di rumah dan tidak ada pembantu, ada baiknya menangani cucian dg baik, sehingga istri pulang ke rumah sdh beres semua. Hahaha…

Bagaimana urutan cara mencucinya, ya kurang lebih begini :
image

1.  Saat pertama kali akan mencuci sebaiknya pisahkan dahulu pakaian yang berwarna putih/cerah dengan yang berwarna gelap. Hubungkan steker mesin cuci ke stopkontak, pastikan tombol water supplay selector pada posisi wash. Putar tombolcycle selector pada posisi Heavy atau soft. Isilah tabung pencuci dengan air bersih dengan selang melewati saringan yang ada di tengah atas mesin cuci.

2. Setelah air dirasa cukup untuk mencuci, campurkan sabun cuci/deterjen ke dalam tabung cuci lalu aduk dengan memutar tombol wash timerke arah kanan sedikit saja, agar deterjen dapat bercampur merata bersama air.

3. Masukkan pakaian yang akan dicuci ke dalam tabung cuci, lalu tutup tabung, putar knop wash timer ke arah kanan lalu diamkan, Mesin akan berhenti dengan otomatis setelah tombol kembali ke posisi awal, setelah itu air bekas cucian dapat dibuang dengan memutar tombol Cycle selector ke posisi drain.

Hal penting terkait  fungsi tombol wash timer:
Angka yang ada seperti 15, 24, 33, 40, dan 45 adalah waktu yang diperlukan untuk proses mencuci dalam satuan menit.Gambar baju dengan tulisan soak adalah proses perendaman.Gambar baju dengan lingkaran panah adalah proses pencucian.

4. Setelah mesin cuci mati dengan otomatis, buka tutup tabung cuci lalu pindahkan cucian ke dalam tabung pengering/spin, lalu tekan-tekan cucian agar tidak ada rongga yang menyebabkan perputaran spin tidak beraturan, lalu pasang plastik pengunci cucian ke dalam tabung spin. plastik pengunci cucian berfungsi menahan cucian agar diam pada tempatnya sehingga mencegah cucian terlempar keluar tabung saat spin dinyalakan.

5. Putar tombol spin-dry timer ke arah kanan, angka pada tombol menunjukkan lamanya waktu pengeringan, makin jauh putaran tombol makin lama proses pengeringan. menurut pengalaman, bila tabung pengering penuh dengan cucian maka tombol cukup diputar pada posisi 2.

6. Ini adalah proses bilas pertama, sama seperti poin sebelumnya, yakni putar tombolcycle selector pada posisi  wash. Isi tabung pencuci dengan air bersih, kemudian masukkan pakaian yang telah dikeringkan. putar knop wash timer ke arah kanan. lalu ikuti langkah-langkah seperti pada poin 4 dan 5.

7. pada saat ini proses pencucian, pembilasan awal dan pengeringan telah selesai, namun bila dirasa kurang, anda dapat mengulangi proses seperti langkah-langkah di atas agar hasil cucian lebih bersih. Pada proses akhir pembilasan anda dapat menambahkan pengharum cucian untuk menghilangkan bau cucian.

8. Na, ternyata mudah, dan para suami bisa sambil melakukan pekerjaan lain, seperti membaca, bersih2 pepohonan, kasih makan piaraan, atau seperti sy sambil nutul hape tuk menulis pengalaman ini di blog yg sdh 2 tahun lebih tdk aktif, wouuww…hehe…

Selesai tulisan, tapi cucian belum karena baru baju putih, yg lain perlu 2 kloter lagi, kayaknya.
Enjoy…kerjakan hal2 kecil dg penuh perhatian dan kesadaran penuh, niscaya menjadi kebahagiaan kecil, yg mengesankan.

Nah, langkah terakhir jemur… !!! Karena di Kupang saat ini kemarau dan berangin, paling tidak sampai 1 jam sdh kering sempurna.

Demikianlah Cara Mengoperasikan Mesin Cuci SHARP ES-T85CL yg tua tapi bandel,  sekaligus belajar mencuci bagi sy, semoga bermanfaat. 

Pink di Hypermart Kupang

Posted: Februari 7, 2014 in Uncategorized

image

Ini kesukaan si kecil Azka. Bukan warna pink seperti jaketnya atau warna kereta bayi yg dipegangnya. Yang azka suka adalah keramaian dan mainannya, hirukpikuknya, keleluasaannya memegang semua barang2.

Pink identik dengan kelucuan, kecantikan, wanita dll, tapi itu adlah persepsi orangtuanya. Azka blum sampai klasiifkasi warna sejauh itu, karena maret bulan depan baru genap 2 tahun.

Yang asyikk ya main main dan main.

BDG 2 JOHODSC_0001Hari Sabtu 14 September dini hari jam 3.40 a dibangunkan LOC ISYA utk bersiap berangkat ke Bandara Husein Sastranegara Bandung. Itu adalah saatnya aq meninggalkan gedung Assessment LAN di Sumedang yang selama hampir 3 minggu aq diami.

Jam 4.12 kami menembus kegelapan sumedang menuju Bandung. Aktifitas warga Bandung sudah menggeliat, meskipun belum macet. Ya, 2 jam berikutnya jalanan kota Bandung tidak akan selengang ini, pikirq saat itu.
Sampai di Bandara, serahkan tas bawaan di bagian check in maskapai Lion, terus kusempatkan sholat Subuh di mushola waiting room. Tak berapa lama penumpang jurusan Surabaya di panggil. Lets go to Surabaya. Dalam batinq, sampai Surabaya jam 7.25 (sesuai e-tiket Lion), meluncur lancar ke Nganjuk mungkin sekitar 3 jam, trus samapilah di kampung kelahiranq, Jatigreges.

Tapi perjalanan selepas Bis DAMRI Bandara Juanda, tidaklah lancar. Terminal Purabaya yang sedang dalam renovasi, menyebarkan debu ke semua arah, dan Aq harus tertahan disitu, di dalam Bis PATAS jurusan Jombang-Madiun-Ponorogo,kurang lebih 1,5 jam karena menunggu penumpang cukup penuh terangkut. Sambil duduk aq amati aktivitas terminal. Semua orang lalu lalang tergesa-gesa menuju bis-bis sesuai arah tujuan, dibawah panas yang menyengat dan debu beterbangan tertiup angin dan langkah-langkah kaki.

Fasilitas Jalanan lintas tanah Jawa, memang tidak pernah beres tuntas, macet ada dimana-mana. Baik karena begitu banyaknya kendaraan berbagai jenis memenuhi jalanan, seperti mobil, truk, bis, sepeda motor, ataupun karena prasarana jalan yang tidak memadai, rusak, atau ada proyek seperti jalan tol Surabaya-Solo yang mengganggu kelancaran lalu lintas. Tapi harapan selalu ada, dan Tol Surabaya-Solo sebagai bagian Jalan Lintas Jawa, menjadi harapan yang ditunggu panuh sabar.

Boarding Pass. BDG 2 SBY

Boarding Pass. BDG 2 SBY

Tiket Bus SBY - NGK

Tiket Bus SBY – NGK

Tiket Bus NGK - JOHO

Tiket Bus NGK – JOHO


Di Daerah Mojokerto, macet karena pembangunan jalan benar-benar terasa. Dilanjut di Jombang, yang jalurnya dialihkan karena ada keramaian, semacam karnaval. Dan selebihnya lancar dan tidak macet. Dan harga tiket angkutan saat ini sudah jauh beda dengan jaman dulu. Sekarang Juanda Purabaya 20.000,-, Surabaya – Nganjuk PATAS AC 40.000,- dan Nganjuk – Joho 5000,-. Dulu saat aq SMA, Nganjuk – Joho hanya sekedar 100,-, maklum pelajar, kalau umum 300,-.

Kalau saya masih ingat tahun 1994-an, dengan berbekal 20.000,- saja sudah cukup untuk perjalanan Denpasar – Nganjuk. Kalau tidak salah, Bis Denpasar – Gilimanuk hanya 5.000,-, dilanjut menyeberang dengan Ferry, trus Ketapang – Surabaya hanya 8.000,-, Surabaya – Nganjuk juga masih murah sekali, 3000,-. Makanya , banyak orang Jawa yang merasa, bahwa jamannya pak Harto masih jadi penguasa itu masih lebih enak dibandingkan jaman sekarang. Hehehe sepertinya memang benar adanya…

Nganjuk – Kediri

Menelusuri kota Kediri, Kota Nganjuk, memberikan nuansa yang tidak banyak berubah. Tidak ada gedung 10 lantai ke atas atau maraknya apartemen seperti fenomena di kota-kota besar. Pemandangan sawah menghjau masih banyak ditemui. Warung-warung lesehan dan tenda masih bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Ciri khas kota agraris, dan jangan membayangkan harga mahal seperti di kota Besar.

Tadi malam saya sempatkan makan Nasi Pecel Tumpang di Dekat SMA 2 Nganjuk, tempat aq sekolah dimasa itu. 1 porsi penuh, ditambah teh hangat 1 gelas besar, plus aq ambil 2 potong gorengan tempe gembus. Total semuanya hanya 6.500,-. Waduh masih murah amat. Di mana aq bisa dapati paket seperti itu di Kota Kupang, NTT, atau dikota lain seperti Surabaya, Bandung? Sepertinya tidak ada lagi. Di kupang satu porsi nasi campur saja, sudah 8.000,- belum teh dan lain-lain. Jadi minimal 10.000,- untuk yang sangat sederhana.

Oya, cukur rambut dengan kualitas yang sama, di Nganjuk masih 6.000,-. Di Kupang? Minimal 12.000,-, dan rata-rata 15.000,- untuk orang dewasa. Kacek akeh tenan. Makanya sejauh-jauhnya wong Jowo merantau, ya selalu terselip dalam benak, pada saatnya nanti ada momen untuk menghabiskan sisa umur di kampung, di tanah Jawa. Apalagi sanak saudara ada di Jawa semua:), hehe. Seperti aq dan keluarga di Kupang ada keinginan untuk tinggal di kampung daerah Malang, lumayan sudah dekat. Ada teman dosen di Malang, setelah pensiun ingin tinggal di kampung di Nganjuk. Ya itu lebih dekat lagi. Memang itulah yang terbaik, menurut masing-masing.

Di kampung, semuanya tanpa ambisi, hanya ketenangan dan kedamaian… Dan itulah keadaan yang paling ideal untuk mengisi sisa umur. Itu menurutq !.. Tentu tidak semua impian bisa seperti itu dan pendapat anda tidak akan sama denganq !

Habel Edon adalah sosok natural, seniman tulen Sasando di jaman modern ini. Orang tidak akan pernah mengenalnya kalau tidak dikenalkan, karena karakter seninya lebih di-eksploitasikan pada kreativitas pembuatan sasando dalam diam.

Bersama anak-istrinya dan anak didiknyalah idealisasi Sasando diperjuangkan. Tidak berjuang sebatas atas nama keluarga, tapi atas kepentingan budaya. Kalau Budi Priyadi, Kepala Puslitbang Kebudayaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, berkata, “Kedua alat tersebut sudah didaftarkan ke UNESCO. Yang kami khawatirkan akan hilang bukan karena diklaim negara lain, tetapi karena mereka yang menggeluti musik Sasando dan Noken semakin habis”, tentu bisa difahami, karena Budi Priyadi tidak kenal Bapak Habel.

Sasando adalah warisan budaya yang sangat berharga dan sektor potensial di ‘ekonomi kreatif’. Tapi apakah Budi Priyadi, Pemprov NTT sudah ‘benar-benar’ peduli dengan Sasando? BELUM! Karena belum ada ‘action’ yang fokus realistis untuk mengangkatnya sebagai program unggulan daerah dan aspek budaya Indonesia.

Kalaupun sekedar ‘selalu’ hanya mengikutsertakan didalam promosi budaya, kita tahu sendiri bagaimana sebuah wajah lakon ‘ stand’ pameran. Tidak optimal. Program integratif –lah yang harusnya lebih difokuskan. Pembinaan manajemen usaha profesional, dan tentunya harus juga siap memberikan hibah pendamping, dari sebuah program kerjasama.

Ketika ekonomi kreatifnya Budi Proyadi memberi makna Sasando, hanya sekedar dijadikan cinderamata, pajangan dan barang antik dan tidak ada sosok seperti Habel Edon, maka kekuatirannya akan benar-benar terwujud, Sasando adalah produk budaya masa lalu yang lebih cocok ditaruh di museum2 kusam.

Habel Edon, layak dijadikan pejuang budaya, karena inovasi dan kreasinya membuat Sasando tidak lagi ‘KUNO’, tapi mampu tampil dalam eksotika modern. Idealisasi yang diwujudkannya dalan keuletan dan kerja keras, telah mampu menyentuh ranah interkultural. Sasando tidak lagi dianggap ‘kuno’ oleh generasi muda. Orang-orang barat begitu takjub menikmati kekhasan alat musik Sasando, serta kagum akan kelincahan jari-jemari memproduksi alunan irama yang detail dan indah. Sasando Elektrik buatan Habel Edon, sangat representatif disandingkan dengan alat musik modern, kolaborasinya juga mampu meningkatkan kualitas pagelaran.

Membuat, Mendidik, memainkan, Melestarikan, Mempromosikan…. Sendiri, karena banyak komponen bangsa, khususnya Prov NTT tidak terlalu peduli. Bukan tidak peduli, tapi Kurang Peduli. Tapi Habel Edon akan terus berjuang, walau kadang harus bermain dengan menahan sakit ‘kencing batu’nya…

Warisan budaya amatlah berharga, dan Habel Edon melakukan menyuguhkan sebuah idealisasi, agar Sasando tidak Mati…