Habel Edon adalah sosok natural, seniman tulen Sasando di jaman modern ini. Orang tidak akan pernah mengenalnya kalau tidak dikenalkan, karena karakter seninya lebih di-eksploitasikan pada kreativitas pembuatan sasando dalam diam.
Bersama anak-istrinya dan anak didiknyalah idealisasi Sasando diperjuangkan. Tidak berjuang sebatas atas nama keluarga, tapi atas kepentingan budaya. Kalau Budi Priyadi, Kepala Puslitbang Kebudayaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, berkata, “Kedua alat tersebut sudah didaftarkan ke UNESCO. Yang kami khawatirkan akan hilang bukan karena diklaim negara lain, tetapi karena mereka yang menggeluti musik Sasando dan Noken semakin habis”, tentu bisa difahami, karena Budi Priyadi tidak kenal Bapak Habel.
Sasando adalah warisan budaya yang sangat berharga dan sektor potensial di ‘ekonomi kreatif’. Tapi apakah Budi Priyadi, Pemprov NTT sudah ‘benar-benar’ peduli dengan Sasando? BELUM! Karena belum ada ‘action’ yang fokus realistis untuk mengangkatnya sebagai program unggulan daerah dan aspek budaya Indonesia.
Kalaupun sekedar ‘selalu’ hanya mengikutsertakan didalam promosi budaya, kita tahu sendiri bagaimana sebuah wajah lakon ‘ stand’ pameran. Tidak optimal. Program integratif –lah yang harusnya lebih difokuskan. Pembinaan manajemen usaha profesional, dan tentunya harus juga siap memberikan hibah pendamping, dari sebuah program kerjasama.
Ketika ekonomi kreatifnya Budi Proyadi memberi makna Sasando, hanya sekedar dijadikan cinderamata, pajangan dan barang antik dan tidak ada sosok seperti Habel Edon, maka kekuatirannya akan benar-benar terwujud, Sasando adalah produk budaya masa lalu yang lebih cocok ditaruh di museum2 kusam.
Habel Edon, layak dijadikan pejuang budaya, karena inovasi dan kreasinya membuat Sasando tidak lagi ‘KUNO’, tapi mampu tampil dalam eksotika modern. Idealisasi yang diwujudkannya dalan keuletan dan kerja keras, telah mampu menyentuh ranah interkultural. Sasando tidak lagi dianggap ‘kuno’ oleh generasi muda. Orang-orang barat begitu takjub menikmati kekhasan alat musik Sasando, serta kagum akan kelincahan jari-jemari memproduksi alunan irama yang detail dan indah. Sasando Elektrik buatan Habel Edon, sangat representatif disandingkan dengan alat musik modern, kolaborasinya juga mampu meningkatkan kualitas pagelaran.
Membuat, Mendidik, memainkan, Melestarikan, Mempromosikan…. Sendiri, karena banyak komponen bangsa, khususnya Prov NTT tidak terlalu peduli. Bukan tidak peduli, tapi Kurang Peduli. Tapi Habel Edon akan terus berjuang, walau kadang harus bermain dengan menahan sakit ‘kencing batu’nya…
Warisan budaya amatlah berharga, dan Habel Edon melakukan menyuguhkan sebuah idealisasi, agar Sasando tidak Mati…






benar juga ya, prihatin sekali kalau sasando akhirnya cuma jadi miniatur dan barang pajangan… :’(