Seputar Sasando 01 : Sejarah Alat Musik Tradisional NTT

Posted: Desember 9, 2010 in Budaya

Sasando sendiri sudah kita ketahui, adalah sejenis alat musik petik dengan ruang resonator dari haik (anyaman dari daun lontar) yang sudah terkenal di kalangan masyarakat NTT.

Memang alat musik ini boleh dikatakan unik, karena merupakan salah satu instrument musik petik dengan keunikan ada pada bentuk, cara memainkannya dan juga bahan pembuatannya.

Alat musik ini cukup terkenal belakangan ini di tengah-tengah masyarakat, apalagi setelah Berto Pah menampilkannya di IMB ( Indonesia Mencari Bakat),namun pertanyaannya, apakah semua masyarakat NTT mengenal sasando, ataukah semua masyarakat bisa memainkannya. Ataukah jangan sampai suatu saat alat musik ini punah dan masyarakat NTT harus ‘berguru’ lagi ke daerah lain untuk memainkan sasando yang sebenarnya?.

Sejarah atau asal-usul sasando ini, kita semua hanya peroleh dari ceritra-ceritra secara turun-temurun yang sudah diwariskan secara lisan maupun tulisan, namun yang pasti alat musik ini terdiri dari dua jenis, yaitu sasando gong dan sasando biola.

Perkembangan alat musik ini berjalan terus seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula modifikasi bentuk serta kualitas bunyi dengan pergantian dawai. fifik diganti dengan tulangan daun lontar, kulit bambu berganti senar kawat, senar tunggal diganti dawai rangkap, akustik berkembang pula ke elektronik, sasando gong berkembang ke sasando biola.

Menjadi kebanggan tentu bagi orang Rote dan juga NTT umumnya akan bentuk dan keindahan, bunyi dari sasando yang telah mengalami modifikasi, namun dipihak lain pemain sasando semakin hari semakin berkurang. Tentu menjadi sebuah pertanyaan yang muncul, mengapa pelestarian sasando menjadi menurun atau mengalami hambatan? bahkan sekarang ini pemain sasando biola pun tinggal sedkit saja. Bahkan secara umum jumlah pemain sasando tidak lebih dari 20 orang.

Menyadari akan hal itu, masyarakat NTT umumnya perlu memasyarakatkan dan melestarikan alat musik ini sehingga kekayaan seni budaya dapat dikembangkan serta dipertahankan. keterlibatan semua elemen masyarakat sangat diperlukan dalam melestarikan dan mengembangkan alat musik ini.(yel)

Sansando atau Sasandu

SALAH satu faktor yang mempengaruhi lahirnya kebudayaan suatu daerah adalah struktur dan kondisi alam dari daerah itu. Hal ini juga tampak yang terjadi pada kebudayaan orang Rote tempat asal alat musik sasando. Keberadaan tanaman lontar di Pulau Rote cukup memberi arti bagi NTT karena dari pohon itu, ide membuat sasando muncul, karena itu pohon lontar sendiri sebagai peletak dasar kebudayaan masyarakat.

Masyarakat Rote sendiri tidak memanfaatkan tanaman ini sebagai sumber kehidupan, yaitu sebagai penghasil tuak, sopi (minuman tradisional), gula lempeng,gula air, gula semut, tikar, haik, sandal, topi atap rumah maupun bahan bangunan, tetapi lebih dari itu, masyarakat sudah menganggap tanaman ini memiliki nilai lebih karena sudah menginspirasi lahirnya alat musik sasando. Sampai sekarang daun pohon lontar ini masih tetap dipertahankan sebagai resonator alat musik ini.

Yusak Meok, salah satu pemateri pada seminar Musik Sasando di Hotel Kristal, Kamis (17/12/2009) lalu, mengatakan, Sasando yang seharusnya bernama sasandu (bunyi yang dihasilkan dari getar), lahir dari inspirasi penemunya dari hasil interaksi dengan alam.

Menurut Meok, ada berbagai fersi mengenai sejarah tentang alat musik ini, diantaranya, alat musik ini konon ada seorang pemuda bernama Sangguana pada tahun 1650-an terdampar di Pulau Ndana, Sangguana memiliki bakat seni, sehingga penduduk membawanya ke istana, kemudian putri istana terpikat dan meminta Sangguana menciptakan alat musik. Sangguana pun bermimpi pada suatu malam sedang memainkan alat musik yang ciptakannya, kemudian diberi nama sandu (bergetar).

“Ada jua cerita lain, alat musik ini ditemukan oleh dua penggembala yang bernama Lumbilang dan Balialang, ada juga cerita lain, sasandu ini ditemukan oleh dua sahabat yakni Lunggi Lain dan Balok Ama Sina,” papar Meok.

Karena alat musik yang telah dipasang dalam haik itu beresonasi, maka disebut sandu atau sanu yang mempunyai arti bergetar atau getaran. Alat ini kemudian disebut sebagai sasandu yang berasal dari kata berulang sandu-sandu atau bergetar berulang-ulang.

Dengan perkembangan yang terjadi, maka sasandu ini lebih dilafalkan menjadi sasando, sehingga terbawa sampai saat ini, namun ucapan ini tidak merubah bentuk dan suara dari alat musik ini.

Sementara itu Petrus Riki Tukan, pemateri lainnya mengatakan, alat musik sasando merupakan sebuah fenomena budaya pada umumnya dan kesenian (musik) khususnya yang cukup menggoda naluri seniman.
(sumber : pos kupang)

Komentar
  1. Drs.Simon Arnold Julian Jacob mengatakan:

    Sejarah SASANDO ROTE dan Alat Musik Tradisional Madagaskar “VALIHA” masih ada hubungan sejahnya. Begini Sejarahnya.

    Dalam buku yang saya tulis tentang SASAMDO ROTE, disana termuat pula dengan jelas;
    Hal in masih terkait dengan Sejarh Raja-Raja Pulau Rote hubungannya dengan Belanda.
    Pada tahun 1681, Belanda menyerang raja-raja Pulau Rote untuk menguasai. Terjadilah perang antara raja-raja Rote dengan Belanda. Pada perang teraebut Belanda akhirnya menag dan akhirnya menjajah Pulau Rote yang semuanya ada 19 Kerajaan. Kemudia Belanda menjadikan orang-orang Rote menjadi tawana perang dan dijadikan budak. Pada tahun sesudah kemenangan Belanda, terdapat 1000 budak di buang ke Batavia dan akhirnya mereka inilah yang menurunkan keturunan “Betawi hingga saat ini. Boleh dikatakan Batavia pada tahun 1681 belum banyak pendudknya sehingga budak-budak buangan dari Pulau Rote ini yang menjadi kuli untuk pembangunan kota Betawi (Jakarta) saat.Akhirnya mereka tetap menjadi pendudk Betawi, yang kama kelmaan masuk agam Islam, sehingga tidak dikenal lagi marga/Vam Rotenya lagi.
    Kemudin terdapat 1000 orang budak Pulau Rote ini di buang juga ke Madagaskar, yang pada tahun 1681 itu pendudk Madagaskar juga masih sedikit. Kemudian budak-budak Orang Rote buangan ini tetap tinggal dan menurunkan keturunannya di Madagaskan. Orang-orang buangan ini kemudian meneruskan pembuatan alat kesenian asal negeri dahulu yaitu Pulau Rote, bukan memakai nama SASANDO ROTE, melainkan diberi penamaan baru yaitu “VALIHA’ menurut istilah Madagaskan. Jika kita melihat bentuknya Valiha, maka tidak ada perbedaan sedikitpun, habya kotak gema suaranya tidak memakai daun lontar seperti di Pulau Rote, karena diMadagaskar sulit menemukan Pohon Lontar.
    Jadi singkatnya, adalah bahwa SASANDO ROTE dan VALIH Alat musik Tradisonal Madagaskan adalah berasal dari Orang-orang Rote ke Madagaskar Tahun 1681.
    (Sumber : Drs.Simon Arnold Julian Jacob, dalam Bukunya : “Belajar dan Memainkan SASANDO ROTE Dan Mengenal Potensi Pulau Rote Di NTT-1210)
    Alamat : Jln.JAMBON I No.414J, TR.10 – RW.03 – KRICAK – KOGJAKARTA, Telp.Rmh : 0274.588160 – HP.05743064720.
    Terima kasih atas perhatian GBU.

    • Drs.Simon Arnold Julian Jacob mengatakan:

      Keterangan Tambahan : Menyambung keterangan di atas, maka perlu kami jelaskan tentang Kata “VALIHA”. Musik tradisional Madagaskan disebut “VALIHA”. Valiha ini masih ada hgubungannya dengan SASANDO ROTE, yatu dibuat oleh Orang Pulau Rote (Roti) yang dibuang oleh Belanda ke Madagaskar tahun 1681 saat Belanda mengalahkan kerajaan-kerajaan di Pulau Rote sehingga 1000 orang di jadikan budak di kirim ke Madagaskar dan kemudian menetap sebagai warga Madagaskan. Mereka ini membuat alat musik seperti alat musik daerah asalnya yaitu Pulau Rote. Mereka namakan alat musik itu “VALIHA”. Kata ini adalah asli kata bahasa Pulau Rote yaitu kata asalnya VALI yang artinya “PULANG” yaitu dalam memainkan alat musik ini ada Kerinduan untuk ingin Pulang Kampung di Pulau Rote. Kata VAL:I ini biasa di tambah “YE” menjadi “VALIYE” (ini bahasa Rote Barat) arti VALIYE = MARI KITA PULANG-NGE (maksudnya ingin pulang kampung). Sedangkan dalam bahsa Rote Timur adalah “VALIHA” sama dengan arti “MARI KITA PULANG-NGE (Pulang kampung). Jadi Kata VALIHA untuk alat musik Madagaskan adalah merupaka Kata Asli dari bahasa Pulau Rote. Untuk ini perlu dilakukan penelitian sejarah, oleh para antropolog dan Sosiolog suku-suku Rote yang ada di Pulau Madagaskan dan apakah masih terdapat VAM orang Rote dan dimana lokasi mereka.Drs.Simon Arnold Julian Jacob, Alamat : Jln.Jambon I No.414J Rt.10 – Rw 03 Kricak – Jatimulyo – Jogjakarta, Telp. 0274.588160 – HP. 082135680644. Rmail : saj_jacob1940@yaqhoo.co.id

      • alifis mengatakan:

        tambahan ilmu yang bermanfaat Bapa,

      • mell messakh mengatakan:

        shalom papa, makasih no’uk neu papa, karena ita hambu tutuik beuk esa bali, apalagi kami yang masih anak-anak. karena dengan informasi ini mambuat kami melihat dunia ini secara lebih luas, siapa tahu sautu hari kami bisa ke madagaskar bertemu dengan moyang kita yang disana. kami doakan kiranya Tuhan Yesus menolong papamendapat inf yang lebih lengkap dimasa yang akan datang. Tuhan Yesus berkati. Amin. Soda molek.

  2. Ona mengatakan:

    I blog too and I am publishing a little something similar to this article, “Seputar Sasando 01 : Sejarah Alat Musik Tradisional NTT Planet
    Kupang”. Would you mind in the event I reallyincorporate some of your personal ideas?
    I appreciate it ,Earl

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s