Pink di Hypermart Kupang

Posted: Februari 7, 2014 in Uncategorized

image

Ini kesukaan si kecil Azka. Bukan warna pink seperti jaketnya atau warna kereta bayi yg dipegangnya. Yang azka suka adalah keramaian dan mainannya, hirukpikuknya, keleluasaannya memegang semua barang2.

Pink identik dengan kelucuan, kecantikan, wanita dll, tapi itu adlah persepsi orangtuanya. Azka blum sampai klasiifkasi warna sejauh itu, karena maret bulan depan baru genap 2 tahun.

Yang asyikk ya main main dan main.

BDG 2 JOHODSC_0001Hari Sabtu 14 September dini hari jam 3.40 a dibangunkan LOC ISYA utk bersiap berangkat ke Bandara Husein Sastranegara Bandung. Itu adalah saatnya aq meninggalkan gedung Assessment LAN di Sumedang yang selama hampir 3 minggu aq diami.

Jam 4.12 kami menembus kegelapan sumedang menuju Bandung. Aktifitas warga Bandung sudah menggeliat, meskipun belum macet. Ya, 2 jam berikutnya jalanan kota Bandung tidak akan selengang ini, pikirq saat itu.
Sampai di Bandara, serahkan tas bawaan di bagian check in maskapai Lion, terus kusempatkan sholat Subuh di mushola waiting room. Tak berapa lama penumpang jurusan Surabaya di panggil. Lets go to Surabaya. Dalam batinq, sampai Surabaya jam 7.25 (sesuai e-tiket Lion), meluncur lancar ke Nganjuk mungkin sekitar 3 jam, trus samapilah di kampung kelahiranq, Jatigreges.

Tapi perjalanan selepas Bis DAMRI Bandara Juanda, tidaklah lancar. Terminal Purabaya yang sedang dalam renovasi, menyebarkan debu ke semua arah, dan Aq harus tertahan disitu, di dalam Bis PATAS jurusan Jombang-Madiun-Ponorogo,kurang lebih 1,5 jam karena menunggu penumpang cukup penuh terangkut. Sambil duduk aq amati aktivitas terminal. Semua orang lalu lalang tergesa-gesa menuju bis-bis sesuai arah tujuan, dibawah panas yang menyengat dan debu beterbangan tertiup angin dan langkah-langkah kaki.

Fasilitas Jalanan lintas tanah Jawa, memang tidak pernah beres tuntas, macet ada dimana-mana. Baik karena begitu banyaknya kendaraan berbagai jenis memenuhi jalanan, seperti mobil, truk, bis, sepeda motor, ataupun karena prasarana jalan yang tidak memadai, rusak, atau ada proyek seperti jalan tol Surabaya-Solo yang mengganggu kelancaran lalu lintas. Tapi harapan selalu ada, dan Tol Surabaya-Solo sebagai bagian Jalan Lintas Jawa, menjadi harapan yang ditunggu panuh sabar.

Boarding Pass. BDG 2 SBY

Boarding Pass. BDG 2 SBY

Tiket Bus SBY - NGK

Tiket Bus SBY – NGK

Tiket Bus NGK - JOHO

Tiket Bus NGK – JOHO


Di Daerah Mojokerto, macet karena pembangunan jalan benar-benar terasa. Dilanjut di Jombang, yang jalurnya dialihkan karena ada keramaian, semacam karnaval. Dan selebihnya lancar dan tidak macet. Dan harga tiket angkutan saat ini sudah jauh beda dengan jaman dulu. Sekarang Juanda Purabaya 20.000,-, Surabaya – Nganjuk PATAS AC 40.000,- dan Nganjuk – Joho 5000,-. Dulu saat aq SMA, Nganjuk – Joho hanya sekedar 100,-, maklum pelajar, kalau umum 300,-.

Kalau saya masih ingat tahun 1994-an, dengan berbekal 20.000,- saja sudah cukup untuk perjalanan Denpasar – Nganjuk. Kalau tidak salah, Bis Denpasar – Gilimanuk hanya 5.000,-, dilanjut menyeberang dengan Ferry, trus Ketapang – Surabaya hanya 8.000,-, Surabaya – Nganjuk juga masih murah sekali, 3000,-. Makanya , banyak orang Jawa yang merasa, bahwa jamannya pak Harto masih jadi penguasa itu masih lebih enak dibandingkan jaman sekarang. Hehehe sepertinya memang benar adanya…

Nganjuk – Kediri

Menelusuri kota Kediri, Kota Nganjuk, memberikan nuansa yang tidak banyak berubah. Tidak ada gedung 10 lantai ke atas atau maraknya apartemen seperti fenomena di kota-kota besar. Pemandangan sawah menghjau masih banyak ditemui. Warung-warung lesehan dan tenda masih bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Ciri khas kota agraris, dan jangan membayangkan harga mahal seperti di kota Besar.

Tadi malam saya sempatkan makan Nasi Pecel Tumpang di Dekat SMA 2 Nganjuk, tempat aq sekolah dimasa itu. 1 porsi penuh, ditambah teh hangat 1 gelas besar, plus aq ambil 2 potong gorengan tempe gembus. Total semuanya hanya 6.500,-. Waduh masih murah amat. Di mana aq bisa dapati paket seperti itu di Kota Kupang, NTT, atau dikota lain seperti Surabaya, Bandung? Sepertinya tidak ada lagi. Di kupang satu porsi nasi campur saja, sudah 8.000,- belum teh dan lain-lain. Jadi minimal 10.000,- untuk yang sangat sederhana.

Oya, cukur rambut dengan kualitas yang sama, di Nganjuk masih 6.000,-. Di Kupang? Minimal 12.000,-, dan rata-rata 15.000,- untuk orang dewasa. Kacek akeh tenan. Makanya sejauh-jauhnya wong Jowo merantau, ya selalu terselip dalam benak, pada saatnya nanti ada momen untuk menghabiskan sisa umur di kampung, di tanah Jawa. Apalagi sanak saudara ada di Jawa semua :), hehe. Seperti aq dan keluarga di Kupang ada keinginan untuk tinggal di kampung daerah Malang, lumayan sudah dekat. Ada teman dosen di Malang, setelah pensiun ingin tinggal di kampung di Nganjuk. Ya itu lebih dekat lagi. Memang itulah yang terbaik, menurut masing-masing.

Di kampung, semuanya tanpa ambisi, hanya ketenangan dan kedamaian… Dan itulah keadaan yang paling ideal untuk mengisi sisa umur. Itu menurutq !.. Tentu tidak semua impian bisa seperti itu dan pendapat anda tidak akan sama denganq !

Habel Edon adalah sosok natural, seniman tulen Sasando di jaman modern ini. Orang tidak akan pernah mengenalnya kalau tidak dikenalkan, karena karakter seninya lebih di-eksploitasikan pada kreativitas pembuatan sasando dalam diam.

Bersama anak-istrinya dan anak didiknyalah idealisasi Sasando diperjuangkan. Tidak berjuang sebatas atas nama keluarga, tapi atas kepentingan budaya. Kalau Budi Priyadi, Kepala Puslitbang Kebudayaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, berkata, “Kedua alat tersebut sudah didaftarkan ke UNESCO. Yang kami khawatirkan akan hilang bukan karena diklaim negara lain, tetapi karena mereka yang menggeluti musik Sasando dan Noken semakin habis”, tentu bisa difahami, karena Budi Priyadi tidak kenal Bapak Habel.

Sasando adalah warisan budaya yang sangat berharga dan sektor potensial di ‘ekonomi kreatif’. Tapi apakah Budi Priyadi, Pemprov NTT sudah ‘benar-benar’ peduli dengan Sasando? BELUM! Karena belum ada ‘action’ yang fokus realistis untuk mengangkatnya sebagai program unggulan daerah dan aspek budaya Indonesia.

Kalaupun sekedar ‘selalu’ hanya mengikutsertakan didalam promosi budaya, kita tahu sendiri bagaimana sebuah wajah lakon ‘ stand’ pameran. Tidak optimal. Program integratif –lah yang harusnya lebih difokuskan. Pembinaan manajemen usaha profesional, dan tentunya harus juga siap memberikan hibah pendamping, dari sebuah program kerjasama.

Ketika ekonomi kreatifnya Budi Proyadi memberi makna Sasando, hanya sekedar dijadikan cinderamata, pajangan dan barang antik dan tidak ada sosok seperti Habel Edon, maka kekuatirannya akan benar-benar terwujud, Sasando adalah produk budaya masa lalu yang lebih cocok ditaruh di museum2 kusam.

Habel Edon, layak dijadikan pejuang budaya, karena inovasi dan kreasinya membuat Sasando tidak lagi ‘KUNO’, tapi mampu tampil dalam eksotika modern. Idealisasi yang diwujudkannya dalan keuletan dan kerja keras, telah mampu menyentuh ranah interkultural. Sasando tidak lagi dianggap ‘kuno’ oleh generasi muda. Orang-orang barat begitu takjub menikmati kekhasan alat musik Sasando, serta kagum akan kelincahan jari-jemari memproduksi alunan irama yang detail dan indah. Sasando Elektrik buatan Habel Edon, sangat representatif disandingkan dengan alat musik modern, kolaborasinya juga mampu meningkatkan kualitas pagelaran.

Membuat, Mendidik, memainkan, Melestarikan, Mempromosikan…. Sendiri, karena banyak komponen bangsa, khususnya Prov NTT tidak terlalu peduli. Bukan tidak peduli, tapi Kurang Peduli. Tapi Habel Edon akan terus berjuang, walau kadang harus bermain dengan menahan sakit ‘kencing batu’nya…

Warisan budaya amatlah berharga, dan Habel Edon melakukan menyuguhkan sebuah idealisasi, agar Sasando tidak Mati…

Angsa melesat…

Posted: Desember 21, 2011 in Uncategorized

Tak terasa, angsa di rumah cepat berkembang… ini momen pic yang terekam ! :)

Hari itu Selasa, 12 Desember 2011 kayaknya menjadi hari yang lebih padat. Betapa tidak, ada janjian dengan ibu Jenny dari Audit Internal Undana untuk audit jurusan Fisika, pagi-pagi ditelfon oleh mama Uly ada pertemuan di Kantor pusat, ada kuliah umum dari Utah State University di Ruang Rapat Rektor, trus ditengah acara yang belum selesai diminta pindah acara Sosialisasi BKD (Beban Kerja Dosen) di Aula Undana, siangnya dijemput pak Lewi karena ada monev program Hi-link Dikti…


Itu hanya contoh kecil….
Eeh bukan ! itu adalah contoh BESAR bagi ‘orang kecil’ walaupun bertubuh besar sepertiq. Tapi bagi ‘orang besar’ setingkat Dekan, Rektor, Walikota, Gubernur, dan jabatan eselon-eselon atas lainnya, cerita aq diatas adalah contoh yang yiahh…sangat KECIL. Kalo ‘orang kecil’ musti berputar-putar dilingkup kampus dan kampung, maka ‘orang besar’ lingkupnya antar-pulau, antar propinsi. (Hehe…seperti trayek bis, AKAP -Antar Kota Antar Propinsi :) ). Sekedar guyonan.Hehe… sekedar guyonan.

Orang Indonesia, sudah faham di bulan desember setiap akhir tahun, selalu bertumpuk berbagai ajang kegiatan tutup tahun anggaran. Di akhir desember juga biasanya honor kegiatan yang lewat-lewat ditebarkan. Tentu menjadi momen yang sangat berguna dan berharga. Apalagi di Kota Kupang, yang mayoritas umat Nasrani tentu berharap bisa merayakan Hari Natal dan Tahun Baru dengan meriah dan hati tenang.

Bagaimana dengan perantauan? Ada dua pilihan, (1) bersabar dan ber-tawakkal, atau (2) bertekad bulat dalam niat ‘berangkat mudik’ dengan konsekuensi2. Dua pilihan ini sebenarnya lebih cocok bagi perantauan yang pas-pasan seperti aq. Teman2 yang mau mudik, sudah ribet dan ribut dengan harga tiket yang membumbunglah, biaya lain2 yang pas-pasanlah, dan lah..lah lainnya. Makanya pembayaran honor kegiatan di tutup tahun anggaran, bisa lebih banyak berguna.

Yang bersabar dan bertawakkal, tidak mudik, ya…menikmati Musim hujan di tanah karang. jatuhkan semua biji-biji yang tersimpan, niscaya akan segera tumbuh berkembang menutupi kegersangan, menghijaukan hitamnya tanah karang. Dari ketela, pisang, jagung, padi, kacang2an, dan kerabat2nya…

Hujan di Kota Kupang selalu membawa berkah, tidak seperti banyak musibah di layar tv akibat hujan lebat. Tanah karang mampu menyerap luapan air hujan dalam sekejap. Tapi jangan ditanya di pojok-pojok Kota yang karangnya ditutupi semen, yang air menggenang tak keruan.

Banjir? Jangan bertanya tentang genangan. Kecuali di pojok-pojok Kota yang karangnya ditutupi semen. Tanam, tanam dan tanam… disitulah ada harapan, disitulah ada aecarcah masa depan.

Tidak cukup hanya slogan 1 Milyar Pohon, puluhan milyarpun akan ditanam orang Kupang, kalau disediakan bibit dan benihnya, karena semua sudah berharap dan berfikir bahwa Musim ini adalah musim tanam dan disitulah ada…. ada harapan dan masa depan.

Siang tadi di sekitar Kota Kupang begitu terik dan puanasnya. Gerak tubuh sedikit saja sudah menghasilkan produksi keringat berlebih. Kalau aq diminta pilih berkeringat karena olahraga apa berkeringat karena kepanasan, maka satu-satunya jawaban adalah berkeringat olahraga!.

Kalau tubuh kita temperaturnya meningkat, maka termoregulasi yang dikendalikan oleh hipotalamus, akan menjalankan mekanisme, yaitu (1) vasodilatasi, (2) berkeringat dan (3) penurunan pembentukan/produksi panas tubuh. Vasodilatasi adalah mekanisme pelebaran pembuluh darah perifer di seluruh bagian tubuh. Dengan pelebaran tersebut memungkinkan panas tubuh yang berlebih bisa segera keluar. Berkeringat akan terjadi, saat tubuh melewati temperatur kritis, yaitu 37 derajat celcius, dan tubuh akan menghambat kuat mekanisme pembentukan panas. Contoh : menggigil, sebagai metabolisme tambahan, akibat aktivitas otot, tidak mungkin terjadi.

Disamping mekanisme di atas, ada mekanisme perilaku, yaitu banyak minum ( apalagi yang segar dan dingin :) ), kipas-kipas badan, memakai pakaian yang lebih tipis, dan lain-lain. Nah, maraknya penjual es buah, es campur dan es degan di Kota kupang, adalah proses produktif mengantisipasi gelombang panas saat ini, dan sebagai bagian memenuhi mekanisme perilaku terhadap peningkatan suhu tubuh.

Apakah anda harus benci dengan keadaan ini? tentu tidak! Demikian juga sebaliknya kalau hujan terus-menerus saat musim penghujan nanti. Paling-paling, hanya menggerutu, hehe….

Nah, sore tadi adalah hujan pertama yang cukup merata di atas Penfui. Udara menjadi segar, bau tanah menyegarkan memori akan segarnya musim penghujan yang segera datang. Sepertinya, prakiraan BMKG kali ini tepat dan datang lebih awal !, atau jangan-jangan hujan kali ini hanya hujan basa-basi, lewat sesaat dan mudah dilupakan, entah kapan terjadi, karena setelahnya tidak hujan-hujan dalam jangka waktu yang lama.

Semoga tidak, karena BMKG memprediksi musim hujan normal

“Jelas sekali terlihat behavior Komodo kini berubah karena pengaruh manusia. Setiap datang turis, Komodo diumpani kambing. Hasilnya, Komodo yang terbiasa dekat dekat dengan manusia enggan kembali ke habitatnya – itu justru membahayakan dirinya sendiri. Beruntung kebiasaan diumpani sudah dihentikan,” sahut Prof. Ir. IDP Putra Sastrawan, MAg.Sc, Sang Pakar Komodo.

Kondisi komodo di Pulau Komodo dan sekitarnya cukup sehat. Mereka mendapat lingkungan yang ideal bagi pertumbuhannya. Yakni, cuaca yang panas, gersang, dan hewan-hewan calon mangsa yang harus mereka kejar. Kalau cuaca kurang panas, ia akan kekurangan vitamin D yang berguna untuk menguatkan tulang-tulangnya. Jika Komodo mendapat asupan makanan yang lebih dari cukup, maka tubuh komodo semakin menggembung. Sambungan tulang-tulangnya membengkak. Hal itu diperburuk oleh tubuh yang gembrot, komodo malas bergerak. “Tubuhnya semakin gendut sampai tidak bisa bergerak sama sekali. Dia hanya bisa makan terus sampai akhirnya mati.

Artikel ini asli (tidak aq rubah) dari Ciputraentrepreneurship.com dan okezone.com. Sengaja aq publish kembali di blog ini supaya bisa menambah wawasan tentang pentingnya Komodo dan Habitatnya dijaga supaya tetap asli dan alami, seminim-mungkin ada interaksi dengan manusia luar.
—————————————————————————————————alifis@corner

Berkat ketekunannya mengurusi komodo, Prof Putra Sastrawan sangat dikenal di luar negeri. Dia banyak menjadi konsultan kebun binatang yang merawat komodo. Saat ini dia getol mempromosikan komodo sekaligus menjaga kelestariannya. Siapakah dia?

Putra-Sastrawan. Usianya memang sangat senior. Mei tahun depan dia berusia 70 tahun. Rambutnya terlihat tipis dan sudah banyak yang berwarna putih. Tapi, semangat Putra untuk mendorong pelestarian komodo melebihi mereka yang masih muda. Apalagi, pengetahuannya sebagai profesor komodo membuat dia disegani, baik di dalam negeri maupun luar negeri. “Komodo itu sudah menjadi bagian dari hidup saya,” kata Putra, baru-baru ini.

Bapak tiga anak itu merupakan salah seorang ahli komodo dari Indonesia yang cukup dikenal di luar negeri. Sebab, dia merupakan salah seorang di antara segelintir orang yang sejak awal merawat komodo. Pada 1969, dia ikut terjun langsung di habitat asli reptil purbakala itu di Pulau Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saat itu Putra mendampingi Dr Walter Auffenberg dari Florida State Museum University of Florida. Mereka meneliti kehidupan makhluk buas bernama latin varanus komodoensis itu.

Penelitian berlangsung sekitar tiga tahun. Hasil penelitian itu, Auffenberg menerbitkan buku berjudul Behavioral Ecology of Varanus Komodoensis in Komodo Island and the Adjacent Islands. “Buku itu adalah buku monumental tentang komodo yang pernah diterbitkan. Orang menyebutnya the Bible of Komodo (kitab Injilnya Komodo-Red),” katanya.
Baca entri selengkapnya »